Renungan Buat Anak
Kabarlamongan.com:
Pukul 11.15 WIB, ratusan perempuan berhamburan dari pintu gerbang sebuah
pabrik. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda motor, dan ada pula naik
sepeda angin.
Tak langsung pulang, melainkan menyerbu barang
dagangan yang sengaja digelar para penjual di dekat pintu gerbang. Para
penjual yang pandai memanfaatkan kesempatan. Mereka tahu para buruh
pabrik yang baru keluar adalah buruh yang mendapat shift kerja pukul
06.00, tentu belum sempat belanja.
Para buruh wanita itu pun tak
mau membuang waktu dan pulang dengan tangan kosong. Dalam sekejap
barang dagangan pun berpindah tangan. Sayuran, krupuk dan lauk-pauk
mentah sudah ada di tangan. Dan mereka pun berpindah tempat menyerbu
angkutan umum yang setia menunggu untuk mengantar mereka pulang, berebut
tempat duduk ternyaman.
Angkutan pun langsung penuh. Tak
tanggung-tanggung, jika mengangkut penumpang umum kapasitas angkutan 15
orang tapi ketika para penumpangnya adalah buruh pabrik, 20 orang tak
jadi masalah.
Keselamatan dan kenyamanan tak terlalu penting.
Yang menjadi pertimbangan hanyalah uang yang didapat. Harus memaklumi,
para buruh tersebut sudah menjadi langganan dan langganan maunya bayar
setengah harga, namanya juga langganan. Dan para buruh pun harus rela
berdesakan, jika tidak, bisa-bisa gaji habis untuk ongkos di jalan.
Sungguh
luar biasa kerja keras para buruh perempuan. Membanting tulang memeras
keringat demi mempertahankan kepulan asap di dapur. Bekerja keras bukan
demi kesenangan semata. bukan demi bedak, lipstik, baju baru, perabot
rumah atau bahkan gadget keluaran terbaru, bukan. Tetapi demi menghidupi
keluarga yang tak cukup dengan mengandalkan gaji suami.
Menghabiskan
waktu di pabrik, meninggalkan istana tercinta. Meninggalkan buah hati
dan pekerjaan rumah. Namun begitu, tetap tak bisa lepas dari naluri
seorang perempuan sekaligus ibu. Tetap mengabdi kepada keluarga, seolah
tenaga para perempuan itu tak pernah habis, pekerjaan rumah pun tak
dibiarkan.
Tidak menjadi masalahkah? Yang pasti, tak akan sama
jika perempuan tersebut tidak terforsir di luar rumah dengan perempuan
yang secara sempurna menjalani peran utama sebagai ibu dan pengatur
rumah tangga.
Waktu untuk buah hati secara otomatis terkurangi,
dan kasih sayang pun tak seluruhnya bisa diberikan. Tak bisa menemani
sarapan pagi, tak bisa mengantarkan anak berangkat sekolah meski hanya
sebatas mata memandang hingga keluar halaman. Pagi-pagi buta sudah
keluar rumah, meski makanan sudah siap terhidang namun takkan senikmat
jika bunda sang koki handal ada di hadapan, menemani dengan senyum
hangat.
Malam pun tak bisa banyak dimanfaatkan. Pekerjaan di
luar sekaligus pekerjaan rumah tak menyisakan tenaga. Waktu santai
bersama keluarga jadi hilang, canda tawa bunda tak terdengar, berganti
dengan suara dengkuran tanda kelelahan.
Bukan salah Ibunda
Bisa
jadi bukan kehendak hati untuk hidup dengan tenaga yang tereskploitasi.
Keadaanlah yang memaksa para perempuan untuk keluar rumah. Himpitan
hidup membuat hati dan tubuh berontak, tak mau berdiam diri melihat
suami kesulitan mendapat pekerjaan.
Para perempuan yang dipaksa
oleh keadaan, rela dibayar dengan murah. Sekeras apapun bekerja,
himpitan hidup tak juga berakhir. Gaji yang memang di bawah standar tak
bisa mengejar meroketnya biaya hidup. Semakin keras kerja para
perempuan, semakin tereksploitasi para perempuan. Dan semakin jauh pula
para perempuan dari peran utama mereka sebagai manajer rumah tangga.
Ironinya,
pemerintah malah mengacungi jempol para perempuan yang tak lebih dari
"sapi perahan". Pujian seringkali disampaikan. Perempuan hebat penopang
ekonomi keluarga penggerak perekonomian negara. Padahal itu semua adalah
racun berbalut madu.
Negara membiarkan eksploitasi terhadap
perempuan. Eksploitasi perempuan yang sebenarnya hanyalah demi
kepentingan pemilik modal, yang menginginkan usaha mereka terus berjalan
dan negara pun bisa mengambil keuntungan dari pajak yang disetor.
Dengan begitu, simbiosis mutualisme pengusaha dan negara akan tetap
terpelihara.
Para penguasa negara yang telah berkorban materi
demi meraih tampuk kekuasaan, tentu tak mau melewatkan masa kekuasaan
mereka. Berusaha mengembalikan modal atau bahkan mendapat keuntungan
berlipat ganda.
Wajar jika di negeri kapitalis seperti ini tak
pernah ada cerita pejabat yang jatuh miskin setelah berkuasa, yang ada
adalah semakin kaya. Jadilah penguasa mengelola negara ibarat perusahaan
penghasil keuntungan. Bukan demi kesejahteraan seluruh rakyat, namun
demi segelintir pemilik modal yang akan menjamin bertahannya kekuasaan
hingga akhir masa jabatan.
Maka menjadi wajar pula, jika
kebijakan penguasa hanya menguntungkan pengusaha. Undang-undang
Ketenagakerjaan yang mengizinkan eksploitasi terhadap perempuan, UU
Penanaman Modal Asing yang semakin membuka kran liberalisasi dan
swastanisasi adalah sebagian kecil produk negara yang sama sekali tak
berpihak pada perempuan.
Bukannya memuliakan perempuan,
keberadaan UU tersebut hanya membuat kaum perempuan semakin menderita.
Kebijakan negara yang kapitalistik dan campur tangan asing telah
membuat perempuan sengsara.
Perempuan berhak bahagia
Mempunyai
keluarga bahagia, semua anggota keluarga menjalani peran masing-masing
merupakan dambaan setiap orang, begitu pula dengan perempuan. Menjadi
ibu, pengatur rumah tangga, menjadi pendidik anak-anak generasi hebat,
dimuliakan, dihormati dan bisa menjalani amanah tambahan di luar rumah
tanpa mengabaikan fungsi utama adalah kondisi yang sangat diidamkan.
Namun
itu semua takkan terwujud dalam sistem kapitalisme, sistem ini hanya
memandang perempuan dari potensi ekonomi semata. Mendorong wanita
menjadi mesin pencetak uang untuk menjaga daya beli masyarakat, agar
produk-produk perusahaan tetap laku di pasaran.
Perempuan berhak
mendapatkan perlakuan mulia, dijamin hak-haknya. Hak finansial, hak
pendidikan, hak kesehatan, hak politik, hak mendapatkan rasa aman dan
hak-hak lain yang memang selayaknya didapatkan perempuan.
Dalam
sejarah, sejak kapitalisme mencengkeram dunia mulai dari tahun 1924 di
mana khilafah telah resmi dihapus Mustafa Kemal Pasha, perempuan tidak
pernah mendapatkan kesejahteraan. Perempuan semakin terhinakan, seolah
kembali ke zaman jahiliyah.
Sebuah kondisi yang bertolak
belakang dengan keadaan perempuan dalam masa Islam. Di mana perempuan
mendapatkan jaminan atas terpenuhinya hak-hak mereka, maka menjadi
sebuah kewajaran ketika perempuan sejahtera dan mulia dalam sistem
Islam, lahirlah generasi hebat pembangun peradaban. Ilmuwan-ilmuwan
hebat yang lahir di dunia Islam sekaliber Abdullah ibn Abi Ishaq dan
Sibawayhi ilmuwan di bidang bahasa, Al Khawarizmi, Al Karaji dan Ibn Al
Haytham ahli matematika, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Ruysd dan ribuan
ilmuwan lainnya, mereka adalah ilmuwan yang lahir dalam sistem Islam.
Oleh
karena itu, ketika perempuan menginginkan kebahagiaan di dunia, mereka
tidak boleh menggantungkan harapan pada sistem kapitalisme yang telah
nyata menjadikan perempuan tereksploitasi, hina dan hidup dalam
kemiskinan. Menjadikan Islam dengan sistem khilafahnya sebagai
satu-satunya jalan meraih kebahagiaan. Sebuah perjuangan yang
membutuhkan pengorbanan dan kesabaran.
Dengan sistem Islam, tak
hanya perempuan yang sejahtera, namun juga seluruh umat manusia.
Perempuan harus bergerak untuk melakukan perubahan, aktif dalam usaha
untuk menerapkan hukum Allah di muka bumi ini. Dengan begitu, kerinduan
dan keinginan terhadap tegaknya khilafah akan semakin teropinikan, dan
pada saatnya nanti umat akan memberikan kepercayaan untuk diatur dengan
sistem Islam. Wallahu a’lam bishowab.(republika)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami