Jakarta: Gas menjadi sumber utama energi di masa depan, sehingga eksplorasi gas akan terus dilaksanakan. Hasil studi terbaru menunjukkan gas shale memiliki potensi lebih besar untuk Indonesia dibandingkan dengan Gas Metana Batu bara (CBM/Coal bed methane).
Gas shale, seperti namanya adalah gas alam terbentuk dan terperangkap dalam formasi serpih, yang mengendap di antara batuan sedimen halus dan murni. Sumberdaya alam tersebut biasanya terletak cukup jauh di dalam kerak bumi.
"Sejauh ini sudah banyak yang berminat. Sekitar 60 perusahaan telah mengajukan proposal untuk melaksanakan penelitian bersama dan memulai eksplorasi gas shale," kata Direktur Jenderal Minyak Bumi dan Gas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Evita Legowo dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Kamis (30/8).
Evita mengakui industri gas Indonesia memerlukan investasi sangat besar. Namun langkah-langkah baru, dikombinasikan dengan meningkatnya minat dari pemain-pemain kunci di dalam industri akan membantu menyoroti kontribusi yang dapat diberikan gas dalam diversifikasi bauran energi (energy mix) Indonesia.
"Tahun ini kami akan mengeluarkan keputusan presiden baru untuk meningkatkan pemanfaatan gas untuk transportasi. Melalui Keppres ini kami akan mencoba mengubah pola pikir masyarakat Indonesia dan mengurangi resistensi yang ada untuk memanfaatkan sumber energi ini untuk transportasi," ujarnya.
Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah yang lebih luas untuk menciptakan iklim investasi yang menarik bagi perusahaan minyak dan gas dalam negeri dan internasional.
Masalah ini menjadi tema kunci pada Konvensi dan pameran Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) ke-36 yang berlangsung pada Mei 2013 di Balai Sidang, Jakarta, di bawah payung "Bekerja Bersama untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Indonesia".
Evita yakin, kesepakatan yang dicapai pada harga listrik yang dihasilkan dari Gas Metana Batu bara(CBM) akan bertindak sebagai katalisator untuk menghasilkan lebih banyak proyek-proyek listrik di Tanah Air. "Sejak kontrak CBM pertama yang ditandatangani pada tahun 2008, kami telah menandatangani 50 kontrak dalam tiga tahun. Target kami untuk 2012 adalah menandatangani 10 kontrak baru," tuturnya.
Evita berbicara kepada OBG sebagai bagian dari kompilasi penelitian untuk "The Report: Indonesia 2013", panduan ekonomi dan investasi Indonesia yang terbaru yang sedang dipersiapkan.
Panduan ekonomi ini akan diproduksi dengan bantuan penelitian dari BKPM, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Lubis Santosa & Maramis dan Pricewaterhouse Coopers (PWC) dan mencakup panduan rinci sektor demi sektor bagi para investor asing, di samping serangkaian wawancara kunci dengan para pemimpin politik, ekonomi dan bisnis yang paling berpengaruh.
Indonesia pada 2013 akan menandai puncak dari penelitian lapangan selama lebih dari enam bulan oleh tim analis dari OBG. Hasil penelitian ini akan memberikan informasi tentang peluang untuk investasi asing langsung ke dalam ekonomi Indonesia dan akan berperan sebagai panduan untuk banyak sisi negara termasuk makro ekonomi, infrastruktur, perbankan dan pembangunan sektoral.
OBG adalah perusahaan penerbitan, riset dan konsultasi global, yang menerbitkan intelijen ekonomi di pasar Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami