Kabarlamongan.com: Lamongan- Di tengah polemik rencana pelaksanaannya tahun depan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Standar Nasional Pendidikan atau BSNP akhirnya merilis kisi-kisi soal Ujian Nasional 2013. Tersebut telah disosialisasikan sejak awal November 2012 lalu.
Disebutkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mencantumkan tiga tautan, yaitu tautan surat keputusan (SK) tentang kisi-kisi soal ujian nasional (UN), tautan berisi kisi-kisi soal UN untuk jenjang sekolah dasar (http://bsnp-indonesia.org/id/bsnp/wp-content/uploads/2012/11/kisi-kisi-sdmi-sdlb-tahun-2012-2013.pdf), serta satu tautan berisi kisi-kisi soal UN untuk jenjang sekolah menengah pertama dan atas (http://bsnp-indonesia.org/id/bsnp/wp-content/uploads/2012/11/kisi-kisi-smp-smasmk-plb-tahun-2012-2013.pdf).
SK menyebutkan bahwa khusus kisi-kisi UN ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan soal UN dan memiliki masa berlaku selama tiga tahun. Selain itu, Kisi-kisi tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan acuan untuk mengajarkan materi yang sesuai kepada siswanya.
Materi yang dimuat dalam kisi-kisi dan akan diujikan dalam UN tahun depan pun tidak jauh berbeda dengan kisi-kisi soal UN 2012, namun pada tahun ini terdapat 20 paket soal.
Hal tersebut membuat Lembaga Pendidikan Maarif NU Lamongan melakukan kuda-kuda untuk mensukseskan pelaksanaan Unas 2013. Menurut rencana, PC. LP. Maarif NU Lamongan akan menyelenggarakan kegiatan bertajuk BEDAH SKL UNAS 2013.
Ketika ditemui di Kantor PCNU Lamongan, Sekertaris PC. LP. Maarif NU Lamongan menuturkan bahwa Maarif NU Lamongan telah siap menghadirkan narasumber yang berkualitas dalam persiapan Unas 2013. “Kami ingin semua lembaga di Maarif NU bisa sukses pada Unas 2013,” ungkapnya.
Selain itu, beliau menambahkan bahwa perbedaan SKL Unas 2012 dengan 2013 perlu disikapi dengan positif yaitu dengan persiapan yang matang. “Mulai dari guru mata pelajaran Unas, kepala sekolah hingga anak didik harus kita siapkan secara matang, untuk itu guru mapel Unas yang harus kita matangkan secara maksimal dulu,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan FKIP Universitas Islam Lamongan (Unisla), R. Chusnu Yuli menuturkan bahwa sebenarnya Ujian Nasional (Unas) bukan menjadi indikator kelulusan, melainkan menjadi indicator kejujuran siswa. “Saat ini lembaga membidik nilai siswa, tetapi siswa diajari untuk tidak jujur,” jelasnya.
Tidak hanya itu, beliau juga menjelaskan bahwa ujian nasional terkadang menjadi momok yang menakutkan bagi guru, kepala sekolah, lembaga pendidikan atau dinas pendidikan daerah. “Karena yang dinilai adalah hasil ujiannya, maka mereka rela melakukan berbagai kecurangan,” ungkapnya.
Beliau juga mempunyai pendapat mengenai konsep penyelenggaraan ujian nasional yang dinilai memakai anggaran yang sangat besar agar bisa lebih ringan dan maksimal. “Lebih efektif bila ujian nasional di kabupaten atau daerah diselenggarakan bersama di satu tempat, GOR misalnya, dengan hanya diawasi kamera CCTV. Itu khan lebih ringan biayanya,” pungkasnya. (Zen)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami