Kabarlamongan.com: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia,” (Qs
Al-Isra: 23).
Surah Al-Isra mengisyaratkan keharmonisan dua
hubungan yakni hubungan baik dengan Allah, juga dengan manusia yang
dalam hal ini ialah sosok yang semestinya kita muliakan, orang tua.
Para
mufassir sepakat bahwa perkataan yang mulia menurut firman Allah di
atas ialah mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh
agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan
lebih kasar daripada itu.
Penghormatan terhadap orang tua sangat diatur oleh Islam agar terciptanya hubungan baik antara orang tua dan anak.
Lebih spesifik lagi, penghormatan kepada salah satunya sungguh telah
Rasulullah yang menyatakan seorang laki-laki datang menghampiri
Rasulullah dan bertanya siapakah yang layak untuk dipatuhi? Rasul pun
menjawab, “Ibumu,” hingga tiga kali berturut-turut, kemudian, “ayahmu”.
(HR Bukhari-Muslim).
Penyebutan lebih dari satu kali dalam hadis
Rasul bukan tanpa makna. Pemaknaan yang luas terhadap apa yang pernah
beliau sampaikan lebih khusus kepada urusan kepatuhan anak kepada ibu,
menjadi kewajiban tersendiri mengingat ibu adalah sosok yang sangat
berperan dalam kehidupan si anak dari masa kehamilan, kanak-kanak,
hingga dewasa.
Adalah Umar bin Khattab seorang anak yang sangat
hormat kepada ibunya, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya. Dalam
hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan mendahului ibunya.
Ia
bahkan tak berani makan bersama-sama dengan ibunya, sebab ia khawatir
akan mengambil dan memakan hidangan yang tersedia di meja, sementara
ibunya menginginkan makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah
mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil
dan lemah.
Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apa pun juga. Yang
bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan,
terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dalam hal ini
Rasulullah mengingatkan kaum Muslimin, "Hidungnya harus direndahkan ke
tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan
ke tanah."
Beliau ditanya, "Ya Rasulullah, siapa?" Jawabnya,
"Orang yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu kedua orang
tuanya di masa tuanya, baik salah satunya maupun kedua-duanya, tetapi ia
gagal mendapatkan dirinya masuk surga."
Gagalnya seseorang untuk
masuk surga lantaran pengabaian terhadap hak-hak orang tua, dapat kita
simak dalam kisah Juraij. Juraij adalah remaja yang taat beribadah. Saat
ia ingin melakukan shalat sunah, ibunya memanggilnya.
Kala itu,
Juraij bimbang—dahulukan shalat, atau memenuhi panggilan ibunya? Maka,
Juraij pun memilih shalat dan mengabaikan panggilan Ibunya yang sudah
berkali-kali menggema di telinganya.
Sang ibu pun kecewa, dalam
hati, ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan anakku sebelum ia
mendapat fitnah dari wanita pelacur.” Singkat cerita, Juraij
mendapatkan fitnah dari seorang pelacur karena ia mengabaikan seruan
ibunya.
Menghormati dan memuliakan orang tua bukan saja saat
mereka masih hidup. Ketika beliau wafat, maka sebagai seorang anak, kita
berkewajiban untuk melaksanakan lima hal, seperti hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud, kewajiban itu di antaranya ialah
menyalatkan keduanya, membacakan istighfar, melaksanakan wasiatnya,
bersilaturahim kepada kerabatnya, juga menghormati sahabat-sahabatnya.(Republika)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami