Iklan

Iklan
Advertorial
News Update :

Banyak Uang Belum Tentu Bahagia

Senin, 10 Desember 2012


Kabarlamongan.com: Sebuah studi yang dilakukan di negara kaya dan miskin menemukan, bahwa kekayaan individu, harta benda dan optimisme yang lebih besar terkait dengan kesejahteraan. Temuan tersebut bertentangan dengan teori tentang kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa orang kaya lebih bahagia secara keseluruhan dibandingkan orang miskin.

"Kami menemukan bahwa peningkatan pendapatan mengarah pada meningkatnya kebahagiaan. Tapi itu tergantung pada optimistis seseorang, bukan pada orang yang memiliki keinginan setinggi langit," ujar psikolog dan peneliti dari University of Illinois, Edward Diener.

Diener dan dua rekannya menganalisis data dari 135 negara antara 2005 hingga 2011, yang melibatkan 806.526 orang partisipan melalui Gallup World Poll. Peneliti menggunakan dua ukuran pendapatan, yaitu pendapatan ukuran rumah tangga partisipan dan produk domestik bruto (PDB) paritas daya beli per kapita. PDB digunakan untuk mengukur kesetaraan daya beli di negara yang berbeda. Hal yang diteliti meliputi, kecukupan uang untuk membeli makanan, tempat berlindung, TV serta koneksi internet, optimisme tentang masa depan dan kepuasan mengenai standar hidup partisipan saat ini.

Hasil studi menemukan, bahwa peningkatan pendapatan memang penting. Tapi hal tersebut terjadi hanya jika uang mampu membeli lebih banyak hal-hal material. Dan yang terpenting adalah optimisme individu tentang masa depan, sehingga tidak terus menginginkan lebih banyak. Dengan kata lain, individu tersebut puas dengan keuangan mereka.

"Ekonom Richard Easterlin mengatakan, bahwa standar pendapatan meningkat ketika pendapatan lain dalam masyarakat mereka meningkat. Maka tidak ada tambahan dalam kepuasan hidup, karena pendapatan rata-rata masyarakat meningkat," ujar para peneliti dalam makalah mereka.

Orang sering membandingkan diri dengan orang lain untuk mengevaluasi apa yang mereka miliki. Jika orang lain memiliki lebih, maka pendapatan mereka tampaknya tidak memadai. Sehingga kebahagiaan mereka pun menurun.

"Ada banyak hal berguna dari studi tersebut, dan isu-isu yang penting bagi masa depan masyarakat modern. Tapi rentang data selama enam tahun mungkin bukan bahan penelitian yang ideal," ujar Andrew Oswald dari University of Warwick.

Diener dan Louis Tay dari Singapore Management University serta Shigehiro Oishi dari University of Virginia menjelaskan detail temuan mereka dalam Journal of Personality and Social Psychology.(metro)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkomentar di website kami

 

© Copyright Berita Lamongan Terkini 2010 -2011 | Design by Kabarlamongan.com | Published by Nirwana Digital Print | Powered by Blogger.com.