Kabarlamongan.com:LAMONGAN - Lantaran sarana Pasar Burung tidak ideal dan sering
terjadi burung yang dijual mati, sejumlah penjual burung terpaksa
memanfaatkan trotoar di depan pasar.
Para penjual burung
memilih trotoar untuk menggelar dagangannya lantaran di kanan - kiri
sepanjang trotoar tumbuh pohon penghijauan yang bisa melindungi burung
dari sengatan matahari secara langsung. "Kalau jualan di lokasi pasar
banyak burung yang mati lemas karena kepanasan,"kata Sutrisno Minggu
(23/12/2012) salah satu penjual burung yang memanfaatkan trotoar.
Apa
yang diungkapkan Sutrisno bukan tanpa alasan, di lokasi Pasar Burung
tidak ada tempat untuk berteduh. Yang ada hanya penjual burung dan
makanannya yang menempati stan. Sementara penjual yang datang dari luar
daerah tidak mendapati fasilitas secara layak. Hampir setiap pagi
penjual burung yang datang dari luar memanfaatkan trotoar sebagai tempat
jualan.
Utamanya setiap Sabtu dan Minggu seperti pagi ini,
mereka sengaja menggelar jualannya di kanan - kiri trotoar tepat di
pintu masuk menuju pasar.
Padahal, seperti Sutrisno dan teman
sesamanya tidak keberatan ditarik retribusi minimal Rp 5 ribu asalkan di
dalam pasar ada stan meski hanya sekedar menggunakan pelindung terpal
di atasnya. "Kalau menempati lahan pasar di lapangan yang ada, tentu
akan berdampak rugi yang cukup besar karena banyak burung yang mati
kepanasan, bahkan kehujanan,"tambah Sutrisno.
Para penjual lebih
baik bersusah payah memasang tenda dengan cara bongkar pasang di atas
trotoar asalkan burung - burung yang dijual terjaga dari ancaman
kematian.
Nampaknya para penjual burung ini akan tetap bertahan
sampai kapanpun, selama kondisi dalam Pasar Burung belum memberikan
sarana memadai untuk penjual burung dari luar.(Surya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami