LAMONGAN – Hanya jeda waktu lima jam dari peristiwa pertama pada Minggu (28/10/2012) penganiayaan terhadap tiga pemuda hingga terluka parah. Dua pemuda asal Takerharjo, Ahmad Bayu Saeroni (16) pelajar dan Mardisantoso (36) asal Desa Candi Tunggal, Kec. Kalitengah juga menjadi korban penganiayan.
Korban Ahmad Bayu Saeroni yang dianiaya puluhan massa bersepeda motor pada Minggu pukul 17.30 WIB di kawasan Petiyin perbatasan Lamongan - Gresik menderita luka cukup parah di mata, kepala bocor dan lehernya terluka bekas ikatan tali dan terpaksa dirawat inap di RS Muhammadiyah ruang Marwah 13.
Korban ditemui Surya di RS Muhammadiyah Senin (29/10/2012) siang mengungkpakan, ia tidak menduga jika massa bersepeda motor tiba – tiba menyerangnya. Lantaran ia tidak merasa memilik musuh siapapun.
Kepergiannya malam itu ke Petiyin ke rumah teman sekelasnya bermaksud untuk meminjam buku. Dan ia tak tahu apa penyebabnya hingga massa itu menghajarnya hingga babak belur.
“Saya tidak tahu siapa mereka, karena gelap malam,”aku Saeroni.
Ia ditinggalkan tergeletak di lokasi kejadian, ketika korban berusaha bangkit dan dengan terpaksa dengan menahan sakit dan lumuran darah ia mengendarai sepeda motornya pulang sampai ke rumah.
Orang tua Saeroni, Na’im (51) mengungkapkan, putranya yang masih berstatus salah pelajar di MA Simo Karanggeneng itu menjadi korban pengeroyokan. Roni, katanya tidak bergabung dalam perguruan silat manapun.”Malam itu dia ke rumah temannya mau pinjam buku. Kok terus dihajar gerombolan pemuda berbaju gelap,”ungkap Na’im.
Tiga jam sebelumnya, seorang korban Mardisantoso (36) juga menjadi korban penganiayaan sejumlah pemuda sepulang dari menyaksikan penampilan live musik dangdut di Desa Dibe, Kecamatan Kalitengan. Korban terluka dan perawatannya cukup dirujuk ke Puskesmas terdekat.
Para pelaku dari dua kejadian penganiayaan di Petiyin dan Kalitengah itu belum berhasil diungkap petugas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami