![]() |
| Anak-anak di Desa Sarampad sedang Menggambar Cita-Cita |
Jika sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat, maka sumber pengetahuan primernya tentu saja dari masyarakat itu sendiri. Berbeda sekali rasanya. Belajar pemikiran sosiolog yang kebanyakan orang barat itu di kelas, dengan mendengar langsung suara-suara subaltern di desa. Tepatnya di Desa Sarampad, Cianjur, tempat saya LPMPS kemarin. Mereka mengajarkan kami untuk membuka mata dan telinga. Tentang realita. Kali ini realita itu tentang cita-cita anak-anak SMP di Desa Sarampad dan (yang lebih menarik) jalan menuju cita-cita tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, ketika sedang wawancara dengan respoden, saya seringkali iseng bertanya, “Adek cita-citanya apa? Mau jadi apa nanti kalau udah lulus sekolah?” Jawaban mereka pun sungguh membanggakan, tetapi juga typical anak-anak. “Saya mau jadi dokter ka.” Padahal baru beberapa saat yang lalu adek saya tercinta itu mengatakan ingin melanjutkan ke SMK yang setahu saya sih tidak ada jurusan kedokterannya. Kemudian saya verifikasi lagi, “emang nanti adek mau masuk jurusan apa di SMK?” Kemuda dia menjawab, “mau masuk perkantoran, kayak kakak.” Saya pun terdiam sejenak. Garuk-garuk kepala. Okelah kalau begitu. Hehehe.
Dan ternyata hal tersebut jamak terjadi. Jawaban lain yang biasa keluar adalah guru dan tentara. Kondisinya pun sama, mereka pun ingin melanjutkan sekolah kalau tidak ke SMK yaa ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri), tidak ada yang menyebutkan sekolah keguruan atau akademi militer. Kesulitan akses yang telah mereka rasakan sejak dalam pikiran ini akhirnya membuahkan cita-cita yang jadi sekadar angan. Jauh di langit. Tak terjangkau. Tanpa jalan.
Oke, excuse-nya mungkin karena mereka masih SMP. Kita pun mungkin juga dulu begitu. Tapi... pertanyaannya, apakah saat mereka SMA/SMK/MAN nanti mereka berubah? Jika melihat lagi masalah krisis informasi (khususnya di pedesaan) yang telah saya bahas kemarin, sepertinya sulit. Itulah mengapa mereka butuh kita, sang pembagi surplus informasi.
Ada juga kisah yang menarik ketika rangkaian LPMPS kami memasuki sesi pengmas yang salah satu mata acaranya adalah lomba menggambar cita-cita dengan peserta (kira-kira) anak usia SD. Agar mempermudah, kami pun menampilkan contoh gambar pesawat jika cita-citanya ingin menjadi pilot. Eh, tak disangka, ternyata hampir setengah dari peserta lomba ingin menjadi pilot. Hal ini menunjukkan bahwa masa-masa seperti mereka memang masanya meniru. Lalu siapa yang ditiru? Ya, kita! Yang lebih dewasa dari mereka.
Menjadi Objek Tiruan Terbaik
Kita harus sadar akan posisi kita itu. Sebagai objek tiruan. Jadi, ketika kita miris dengan kondisi anak-anak di sekitar kita, berkacalah! Mungkin mereka meniru kita. Mulai dari degradasi moral, kemalasan akut akibat kecanggihan teknologi, hingga disorientasi kehidupan. Sadarkah dari mana mereka bisa melakukan itu semua? Tentunya dari objek tiruan mereka.
Kita pun mungkin jarang memperhatikan mereka. Jarang memberi apresiasi atas kemajuan dan jarang pula memberi teguran atas kesalahan. Dan yang lebih signifikan, jarang memberikan teladan yang sebenarnya lebih bermakna. Semacam nasihat tanpa kata-kata.
Begitu pun soal jalan menuju cita-cita. Kita memang harus membagi surplus informasi yang kita punya, tetapi yang lebih penting: Tunjukkan pada mereka bahwa jalan itu sudah pernah kita lalui. Informasi itu tak lagi jadi sekadar informasi, tetapi informasi yang telah terbukti.
Dan ternyata hal tersebut jamak terjadi. Jawaban lain yang biasa keluar adalah guru dan tentara. Kondisinya pun sama, mereka pun ingin melanjutkan sekolah kalau tidak ke SMK yaa ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri), tidak ada yang menyebutkan sekolah keguruan atau akademi militer. Kesulitan akses yang telah mereka rasakan sejak dalam pikiran ini akhirnya membuahkan cita-cita yang jadi sekadar angan. Jauh di langit. Tak terjangkau. Tanpa jalan.
Oke, excuse-nya mungkin karena mereka masih SMP. Kita pun mungkin juga dulu begitu. Tapi... pertanyaannya, apakah saat mereka SMA/SMK/MAN nanti mereka berubah? Jika melihat lagi masalah krisis informasi (khususnya di pedesaan) yang telah saya bahas kemarin, sepertinya sulit. Itulah mengapa mereka butuh kita, sang pembagi surplus informasi.
Ada juga kisah yang menarik ketika rangkaian LPMPS kami memasuki sesi pengmas yang salah satu mata acaranya adalah lomba menggambar cita-cita dengan peserta (kira-kira) anak usia SD. Agar mempermudah, kami pun menampilkan contoh gambar pesawat jika cita-citanya ingin menjadi pilot. Eh, tak disangka, ternyata hampir setengah dari peserta lomba ingin menjadi pilot. Hal ini menunjukkan bahwa masa-masa seperti mereka memang masanya meniru. Lalu siapa yang ditiru? Ya, kita! Yang lebih dewasa dari mereka.
Menjadi Objek Tiruan Terbaik
Kita harus sadar akan posisi kita itu. Sebagai objek tiruan. Jadi, ketika kita miris dengan kondisi anak-anak di sekitar kita, berkacalah! Mungkin mereka meniru kita. Mulai dari degradasi moral, kemalasan akut akibat kecanggihan teknologi, hingga disorientasi kehidupan. Sadarkah dari mana mereka bisa melakukan itu semua? Tentunya dari objek tiruan mereka.
Kita pun mungkin jarang memperhatikan mereka. Jarang memberi apresiasi atas kemajuan dan jarang pula memberi teguran atas kesalahan. Dan yang lebih signifikan, jarang memberikan teladan yang sebenarnya lebih bermakna. Semacam nasihat tanpa kata-kata.
Begitu pun soal jalan menuju cita-cita. Kita memang harus membagi surplus informasi yang kita punya, tetapi yang lebih penting: Tunjukkan pada mereka bahwa jalan itu sudah pernah kita lalui. Informasi itu tak lagi jadi sekadar informasi, tetapi informasi yang telah terbukti.



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami