![]() |
| Anak-anak di Desa Sarampad |
“Jika ingin bersyukur, lihatlah ke bawah,” begitu perkataan bijak yang sering disampaikan. Dan saya baru saja mengalaminya beberapa hari yang lalu. Proses belajar langsung dengan berbaur bersama masyarakat memang mencerahkan. Begitu banyak ironi yang saya lihat di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tempat saya Latihan Praktek Metodologi Penelitian Sosial (LPMPS). Salah satu dari sekian ironi tersebut adalah soal informasi.
Di saat over-information melanda kehidupan saya dan mungkin juga teman-teman lainnya, di sana saya justru menangkap gejala krisis informasi. Di saat kehidupan saya dipenuhi dengan beragam perangkat informasi lengkap dengan media sosialnya, di sana saya justru menyaksikan televisi yang sudah sering dikritik banyak orang ini justru menjadi sumber pengetahuan. Dan... Di saat kita bingung memilih tempat belajar dari sekian banyak kampus dan program studi, di sana mereka malah belum banyak tahu tentang pilihan yang sebenarnya cuma satu. Ironis.
Salah satu pernyataan menarik terkait televisi sebagai sumber pengetahuan lahir dari orang tua seorang siswa SMP. Orang tua dari siswa SMP tersebut melarang anaknya lanjut sekolah ke SMK karena dalam pandangannya pergaulan di sekolah itu kurang baik. Di banding belajar, remaja sekolahan lebih sering bergelut dengan dunia percintaan. Setidaknya itulah gambaran yang didapat saat melihat anak SMA di sinetron putih abu-abu yang tayang di SCTV yang sayangnya menjadi satu-satunya gambaran tentang apa yang dilakukan di sekolah. Suatu hal yang fiksi telah di-nyata-isasi. Dibanding berita, sinetron, bagi sebagian orang, ternyata lebih dapat memberitakan.
Bayangkan! Seorang anak gagal lanjut sekolah karena alasan seperti di atas. Bukan tidak mungkin, kasus yang kami temui di tempat LPMPS kami itu bukanlah kasus pertama. Kita mungkin tak merasakan yang mereka rasakan. Pilihan sumber pengetahuan kita banyak, kita bisa menyeleksi, kita bisa memilih. Begitu pun halnya ketika memilih tempat belajar.
Menghela nafas. Ya, hanya itu yang bisa saya lakukan ketika ternyata sebagian besar dari responden kami menjawab tidak tahu tentang sulit atau tidaknya diterima di sekolah yang terdekat. Biarpun, bagi saya dan mungkin juga yang lain, sekolah terdekat itu masih cukup jauh untuk ditempuh, ternyata jarak atas informasi itu lebih jauh lagi. Sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada, tempat bagi mereka untuk bertanya, baik yang nyata maupun maya. Apalagi untuk kuliah, lebih-lebih di kampus favorit, terpikir saja tidak. Bagi mereka, bermimpi untuk bisa berkuliah saja mustahil.
Bandingkan dengan kita yang bisa melihat plus-minus dari bimbel, kampus, hingga program studi yang akan kita ambil. Dengan informasi yang melimpah, kita tidak hanya akan semangat untuk terus bersekolah, tetapi juga akan selektif dalam memilihnya.
Membagi Surplus Informasi
Di tengah ironi semacam ini, yang perlu kita lakukan, simpel saja: membagi surplus informasi. Mungkin saja, dibanding uang 10 ribu rupiah, informasi bahwa di UI terdapat banyak beasiswa dan orang yang bersedia membantu kuliah lebih membantu mereka. Mungkin saja, dibanding beras, gula, dan kecap yang ala kadarnya, sharing kisah seseorang yang berjuang untuk terus sekolah itu lebih berguna.
Informasi adalah bahan baku seseorang dalam menyusun mimpinya. Jadilah penyalur dari bahan baku itu. Bagi siapa saja, khususnya mereka: yang bahkan untuk TAHU saja sulit.
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Salah satu pernyataan menarik terkait televisi sebagai sumber pengetahuan lahir dari orang tua seorang siswa SMP. Orang tua dari siswa SMP tersebut melarang anaknya lanjut sekolah ke SMK karena dalam pandangannya pergaulan di sekolah itu kurang baik. Di banding belajar, remaja sekolahan lebih sering bergelut dengan dunia percintaan. Setidaknya itulah gambaran yang didapat saat melihat anak SMA di sinetron putih abu-abu yang tayang di SCTV yang sayangnya menjadi satu-satunya gambaran tentang apa yang dilakukan di sekolah. Suatu hal yang fiksi telah di-nyata-isasi. Dibanding berita, sinetron, bagi sebagian orang, ternyata lebih dapat memberitakan.
Bayangkan! Seorang anak gagal lanjut sekolah karena alasan seperti di atas. Bukan tidak mungkin, kasus yang kami temui di tempat LPMPS kami itu bukanlah kasus pertama. Kita mungkin tak merasakan yang mereka rasakan. Pilihan sumber pengetahuan kita banyak, kita bisa menyeleksi, kita bisa memilih. Begitu pun halnya ketika memilih tempat belajar.
Menghela nafas. Ya, hanya itu yang bisa saya lakukan ketika ternyata sebagian besar dari responden kami menjawab tidak tahu tentang sulit atau tidaknya diterima di sekolah yang terdekat. Biarpun, bagi saya dan mungkin juga yang lain, sekolah terdekat itu masih cukup jauh untuk ditempuh, ternyata jarak atas informasi itu lebih jauh lagi. Sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada, tempat bagi mereka untuk bertanya, baik yang nyata maupun maya. Apalagi untuk kuliah, lebih-lebih di kampus favorit, terpikir saja tidak. Bagi mereka, bermimpi untuk bisa berkuliah saja mustahil.
Bandingkan dengan kita yang bisa melihat plus-minus dari bimbel, kampus, hingga program studi yang akan kita ambil. Dengan informasi yang melimpah, kita tidak hanya akan semangat untuk terus bersekolah, tetapi juga akan selektif dalam memilihnya.
Membagi Surplus Informasi
Di tengah ironi semacam ini, yang perlu kita lakukan, simpel saja: membagi surplus informasi. Mungkin saja, dibanding uang 10 ribu rupiah, informasi bahwa di UI terdapat banyak beasiswa dan orang yang bersedia membantu kuliah lebih membantu mereka. Mungkin saja, dibanding beras, gula, dan kecap yang ala kadarnya, sharing kisah seseorang yang berjuang untuk terus sekolah itu lebih berguna.
Informasi adalah bahan baku seseorang dalam menyusun mimpinya. Jadilah penyalur dari bahan baku itu. Bagi siapa saja, khususnya mereka: yang bahkan untuk TAHU saja sulit.
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkomentar di website kami