Iklan

Iklan
Advertorial
News Update :

Lamongan Online

More on this category »

Politik

More on this category »

Teknologi

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label contoh laporan praktikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh laporan praktikum. Tampilkan semua postingan

Zoologi Vertebrata

Jumat, 24 Juli 2009

Zoologi Vertebrata

Contoh laporan praktikum

Morfologi Dan Topografi Aves

Topik : Morfologi dan topografi aves.

Tujuan : Mengenal bentuk luar (morfologi) dengan alat-alat dalam (topografi) aves

I. ALAT DAN BAHAN

Alat : 1. Alat bedah.

2. Papan section.

3. Alat tulis dan gambar.

Bahan : 1. Ayam.

II. CARA KERJA

1. Morfologi aves.

a. Meletakkan ayam pada baki sambil mengikatnya.

b. Menggambar morfologi ayam dan struktur bulu dari ayam.

2. Anatomi aves.

a. Melakukan penyembelihan ayam.

b. Mensectio dari dada menuju ke kloaka dan rostrum.

c. Mengamati alat-alat dalam yang terlihat dan cavum orisnya.

d. Menggambar alat-alat dalam dan memberi keterangan.

III. TEORI DASAR

Aves merupakan kelompok vertebrata yang hampir seluruh tubuhnya tertutup oleh bulu. Tubuh aves dibedakan atas paruh, kepala, leher, badan, sayap, tangkai dan ekor.

Bulu pada aves dibedakan atas :

a. plumulae.

b. filoplumae.

Warna bulu aves terbagi 2 golongan :

a. Warna bulu yang disebabkan oleh biochrome yang menyerap dan memantulkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu, yaitu bulu dengan warna merah, jingga, kuning, hitam, kelabu, coklat dan hijau.

b. Warna bulu yang disebabkan oleh adanya elemen fisik, yaitu bulu dengan warna putih, biru dan gemerlapan.

Paruh aves mempunyai ciri-ciri :

- panjang - lurus - pipih datar

- pendek - bergigi

- berkait - berkantung leher

Sayap aves mempunyai beberapa ciri-ciri :

- panjang - bulat

- pendek - runcing

Pada aves terdapat tarsometatarsus dengan ciri-ciri :

- scutellata - serata

- reticulata - boated

Jari pada aves ada yang rata/ datar dan ada yang terangkat, sedangkan cakarnya ada yang runcing dan ada yang obtuse. Kaki aves dibedakan 3 tipe yaitu :

a. Tipe bertengger, terbagi atas :

- passerine

- zygodactyla

b. Tipe berjalan.

c. Tipe berenang, yaitu palmate dan totipalmata.

Bulu ekor (rectriches) mempunyai beberapa ciri yaitu :

- panjang - bulat

- pendek - rata

- runcing dan membentuk garpu.

Alat-alat dalam (organ) pada aves membentuk sistem organ, yaitu :

1. Sistem cardiovasculare, terdiri atas :

a. Cor

- relatif besar - terletak di linea lateralis

- berbentuk kerucut - beruang 4

b. Pembuluh darah, terdiri atas :

- arteri - kapiler - vena

2. Sistem digestorium, terbagi atas :

a. Trachus digestivus,

- rostrum - proventriculus

- cavum oris - ventriculus

- pharynx - intestinum tenue

- esophagus - intestinum erassum

- ingluvies

b. Glandula digestonia,

- glandula salivales

- hepar (pada collumba livia tidak mempunyai vesica fellea)

- pancreas

3. Sistem urogenitale, terbagi atas :

a. Organa uropoetica

- ren - kloaka

- ureter (aves tidak memiliki vesica urinaria)

b. Organa genitalia

- organa genitalia jantan yaitu testis

- organa genitalia betina yaitu ovarium

4. Sistem respiratorium, terdiri atas :

- nares - pulmo

- larynx - syrinx

- trachea - saccus pneumaticus

IV. HASIL PENGAMATAN

V. ANALISA DATA

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Phyllum : Chordata

Sub phylum : Vertebrata

Super classis : Tetrapoda

Classis : Aves

Sub classis : Neornithes

Super ordo : Palaeognathes

Ordo : Galliformes

Familia : Gallidae

Genus : Gallus

Species : Gallus gallus


1. Morfologi ayam.

Tubuh ayam dapat dibedakan atas :

1. Caput (kepala).

Pada caput terdapat alat-alat berikut :

· Rostrum (paruh), terbentuk dari maxilla pada ruang atas dan mandibula pada ruang bawah. Bagian dalam paruh dilapisi oleh lapisan yang disebut cera, sedangkan sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat tanduk.

· Nares (lubang hidung), terdapat dibagian lateral dari paruh bagian atas, nares interna pada sebelah dalam dan nares eksterna pada sebeleh luar.

· Cera, merupakan suatu tonjolan kulit yang lemah dan terdapat pada rostum bagian atas.

· Organon visus (alat penglihat), pada ayam relatif besar dan terletak sebelah lateral pada kepala dengan kelopak mata yang berbulu. Iris berwarna kuning atau jingga kemerah-merahan, sedangkan pupil jika dibandingkan dengan besarnya mata relatif besar. Pada sudut medila mata terdapat membrana nictitans yang dapat ditarik untuk menutupi mata.

· Porus acusticus externus (lubang telinga luar), terletak di sebeleh dorso-caudal mata, sedangkan membrana tymphani yang terdapat disebelah dalamnya untuk menangkap getaran suara.

2. Cervix (leher).

Pada ayam, leher ini biasanya panjang.

3. Truncus (badan).

Truncus pada ayam dibungkus oleh kulit yang seolah-olah tak melekat pada otot. Dari kulit akan muncul bulu dari hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel dan berguna sebagai pembungkus tubuh yang sangat resisten.

Pada uropygium berpangkal bulu-bulu ekor, sedangkan pada facies dorsalis uropygium ada papilla yang mempunyai lubang sebagai muara kelenjar minyak, minyak ini berguna untuk meminyaki bulu-bulunya dan kelenjar minyak disebut glandula uropyglalis.

4. Caudal (ekor).

Ayam mempunyai bulu-bulu ekor yang berpangkal di uropygium.

5. Extremitas / membran liberi.

· Extremitas anterior.

Berupa ala (sayap) yang skeletonnya terdiri atas humerus (lengan atas), radius (tulang pengumpil), ulna (tulang hasta) dan ossa carpalia (tulang pergelangan tangan). Pada aves tinggal 2 buah, yaitu os scaphoideum yang menempel pada radius dan os cunieforme menempel pada ulna.

Persatuan antara ossa carpalia (tulang pergelangan tangan) dengan ossa metacarpalia (tulang telapak tangan) sebagai tempat melekatnya digiti yang ada 3 yaitu jari I, II, III yang nomor-nomornya sesuai dengan banyaknya ruas jari (phalanges) yang ada.

· Extremitas posterior.

Terdiri atas femur, patella, crus yang terdiri fibula yang pendek dan tibio-tarsus yang merupakan persatuan dari tulang tibia dan tarsalia. Pes (tulang cakar) terdiri atas meta-tarsus dan digiti yang mempunyai ruas phalanx (jari-jari). Pada ujung jari terdapat falcula yaitu kuku untuk mencakar, 4 jari itu ada 3 yang mengarah ke muka dan 1 yang mengarah ke belakang.

2. Cavum oris ayam (rongga mulut).

· Maxilla (rahang atas).

Di sini tidak ada gigi, nares posteriors (yang menghubungkan rongga mulut dengan rongga hidung), fissura choanae secundaria, ostium pharyngeum tuba auditiva eustachii, tunggal dan letaknya di medial. Pada palatum terdapat lipatan-lipatan crista marginalis dan plica palatini.

· Mandibula (rahang bawah).

Terdapat aditus laryngis, lingua yang sempit, panjang dan dilapisi oleh lapisan tanduk.

3. Struktur anatomi bulu ayam.

Bulu-bulu ini berfungsi untuk melindungi kulit terhadap cuaca yang tidak cocok dan untuk terbang. Menurut stuktur anatomisnya ada 3 bulu yaitu :

  1. Plumae (contour-feathers).

Terdiri atas bagian-bagian :

Calamus (quill) adalah tangkai bulu.

Rachis (shaft) adalah lanjutan dari calamus yang menjadi sumbu dari vexillum dan di dalamnya tidak berongga.

Umbilicus inferior, merupakan lubang pada pangkal calamus.

Umbilicus superior, merupakan lubang di bagian distal calamus yang melanjutkan diri sebagai sulcus pada rachis. Saat masih muda bulunya kedua umbilicus dilalui pembuluh darah untuk memberi makanan pada bulu muda tadi.

Vexillum (vane), terbentuk dari barbae yaitu suatu cabang ke arah lateral dari rachis, tiap barbae mempercabangkan lagi banyak barbulae, menurut arahnya barbulae terbagi atas :

- barbulae yang distal, menuju ke arah ujung bulu/ distal, mempunyai kait-kait (radioli) untuk mengait barbulae yang proximal.

- barbulae yang proximal, menuju ke arah pangkal bulu/ proximal.

  1. Plumulae (down-feather)

Biasanya terdapat pada ayam yang masih muda, atau yang sedang mengerami telurnya. Plumulae mempunyai bagian-bagian seperti calamus pendek, rachis agak mereduksi, barbae yang panjang dan fleksibel, serta barbulaeyang pendek.

  1. Filoplumae (hair-feather).

Fungsinya belum diketahui, berbentuk sebagai rambut yang ujungnya bercabang-cabang pendek halus, tumbuh dengan jarak yang jarang di seluruh tubuh, mempunyai tangkai yang panjang dan pada puncaknya terdapat beberapa barbae.

4. Anatomi ayam.

Ayam memiliki alat-alat dalam seperti cor, esophagus, ingluvies, proventriculus, ventriculus, intestinum tenue, caecum, rectum, hepar, pancreas, ren, pulmo, trachea yang membentuk sistem organ diantaranya :

a. Sistem Cardiovasculare.

Sentralnya adalah cor yang ada di linea mediana, yang berbentuk kerucut, dibungkus oleh oleh pericardium. Pada aves tidak ada sinus venosus, pembuluh darahnya adalah venae dan arteriae yang keluar dari ventriculum sebanyak 3 buah yaitu :

- arteri anonima sinistra menuju ke kiri.

- arteri anonima dextra menuju ke kanan.

Masing-masing arteri anonima bercabang menjadi arteri carotis communis yang menuju ke kepala, arteri pectoralis yang besar menuju ke musculus pectoralis mayor, arteri sublavia yang menuju ke ketiak menjadi arteri axillaris dan yang menuju ke anggota muka menjadi arteri branchialis.

- aorta, merupakan sisa dari archus aorticus yang menuju ke kanan, sedangkan archus aorticus yang menuju ke kiri telah hilang. Archus aortae itu melingkari bronchus dextrum lalu membelok ke caudal menjadi aorta dorsalis.

Dari ventriculum dextrum yang keluar hanya sebuah arteri yaitu arteri pulmonalis yang selanjutnya pecah menjadi ramus dextrum menuju ke pulmo kanan dan ramus sinistrum menuju ke pulmo kiri.

b. Sistem Digestorium.

Terbagi atas :

Trachus digestivus.

Terdiri atas cavum oris yang di dalamnya ada lingua kecil runcing yang dibungkus oleh lapisan zat tanduk, pharynx yang pendek, esophagus yang panjang dan melebar menjadi ingluvies (tembolok) sebagai tempat penimbunan bahan makanan sementara dan pelunakan.

Dari ingluvies masuk dalam proventriculus/ lambung kelenjar yang menghasilkan cairan lambung (asam), ventriculus yang berdinding tebal berlapis jaringan epitel yang keras di sebelah dalam dan menghasilkan sekresi, intestinum yang terbagi atas bagian haluys dan bagian akhir adalah rectum, lalu kloaka dan yang terakhir adalah anus.

Glandulae digestoria.

Terdiri atas glandulae buccalis/ glandulae salivales (kelenjar ludah). Hepar sebagai salah satu kelenjar pencernaan yang relatif besar, berwarna merah coklat dengan beberapa lobus, yaitu lobus dexter dan sinister, tiap lobus memiliki satu ductus hepaticus yang bermuara pada duodenum, vesica fellea sebagai penampung billus (empedu). Pancreas terletak antara pars ascendens dan pars descendens doudeni. Biasanya mempunyai 3 saluran yang bermuara pada pars ascendens doudeni.

c. Sistem urogenital.

Terdiri atas organa uropoetica dan organa genitalia, yaitu :

· Organa uropoetica terdiri atas :

- ren (metanephros), berjumlah sepasang dan masing-masing terdiri atas 3 lobi.

- ureter, berjumlah sepasang, menuju ke caudal dan bermuara langsung dalam kloaka.

- kloaka adalah suatu ruangan yang tunggal, dimana bermuara saluran-saluran kelamin, kencing dan makanan.

- bursa fabricli, terletak pada dinding kloaka sebelah dorsal, tunggal, besar dan makin mengecil untuk kemudian manghilang sama sekali.

· Organa genitalia, terdiri atas :

- ovarium, hanya yang sebelah kiri saja.

- oviduct (saluran telur), merupakan saluran lurus yang bermuara pada kloaka.

d. Sistem respiratorium.

Bagian-bagiannya adalah :

- nares (lubang hidung), berjumlah sepasang, terdapat pada pangkal rostrum bagian dorsal.

- nares posteriores, meruapakan lubang pada palatum.

- larynx, terdiri atas tulang rawan, membatasi suatu ruangan yang disebut glottis, dihubungkan dengan rongga mulut dengan perantaran celah yang disebut rima glottidis.

- trachea, berupa suatu pipa, mempunyai cincin-cincin tulang yang disebut annulus trachealis, tersusun sepanjang trachea tadi ke arah caudal lalu bercabang menjadi bronchus dexter dan sinister dimana tempat percabangannya disebut bifurcatia trachea.

- pulmo, berjumlah sepasang, relatif kecil, hanya dapat mengembang sedikit dan melekat pada dinding dorsal thorax. Pulmo dibungkus oleh selaput yang disebut pieura.

- syrinx (alat suara), terdapat pada bifurcation tracheae, tersusun dari beberapa annulus trachealis yang paling caudal dan annulus branchialis yang paling cranial.

VI. KESIMPULAN

1. Berdasarkan morfologinya, tubuh ayam terbagi atas caput, cervix, truncus, cauda dan sepasang extremitas yaitu extremitas anterior (sayap) dan extremitas posterior (kaki).

2. Cavum oris ayam terdiri dari maxilla dan mandibula.

3. Bulu pada ayam terbagi 3 macam, yaitu :

- plumae : calamus, rachis, umbilicus inferior, umbilicus posterior dan vexillum.

- plumulae : calamus, rachis, barbae dan barbulae.

- filoplumae.

4. Berdasarkan anatomi ayam, terdapat beberapa sistem organ, yaitu :

- sistem cardiovaskuler : cor dan pembuluh darah.

- sistem digestorium : rostrum, cavum oris, pharynx, esophagus, ingluvies, proventriculus, ventriculus, intestinum tenue dan crassum, hepar, pankreas dan glandula salivales.

- sistem urogenital : ren, ureter, kloaka dan ovarium.

- sistem respiratorium : nares, larynx, trachea, pulmo, syrinx dan saccus pneumaticus.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Naparin, Akhmad.2004. Penuntun Praktikum Zoologi Vertebrata.

FKIP UNLAM Banjarmasin

Suryowijayan, Soeharto.1985. Pengantar Praktikum Zoologi Vertebrata. Yogyakarta : UGM

FISIOLOGI TUMBUHAN

Jumat, 30 Januari 2009

FISIOLOGI TUMBUHAN

Pengamatan Pertumbuhan dan Perkembangan
Tanaman Kacang Hijau


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu cabang ilmu bilogi adalah fisologi yang terbagi menjadi fisologi hewan dan fisiologi tumbuhan. Fisiologi tumbuhan sendiri adalah cabang disiplin ilmu biologi yang mempelajari tentang aktivitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan (sel, jaringan, organ, sistem organ) dan tentang apa yang terjadi pada tumbuhan tersebut dalam pemeliharaan, pengaturan dan pelestarian kehidupannya juga mempelajari tentang respon tumbuhan terhadap perubahan lingkungan serta pertumbuhan dan perkembangannya akibat adanya respon tersebut. Dengan kata lain fisiologi mempelajari proses hidup yang terjadi pada mahluk hidup dalam kaitannya dengan fisika, kimia, maupun matematika.
Ilmu fisilogi penting peranannya dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi mereka yang bergelut di dunia tanaman. Dengan mempelajari fisiologi tanaman, maka permasalahan tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri dapat diatasi. Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan dalam bentuk ukuran dengan menghilangkan konsep yang menyangkut perubahan kualitas sedangkan perkembangan adalah suatu proses pertumbuhan teratur dan berkembang menuju suatu keadaan yang lebih tinggi, teratur dan kompleks
Sebagai contoh adalah tanman kacang hijau, tanaman ini adalah tanaman pangan yang penting namun dalam penanamannya sering mendapat kendala baik dari tumbuhan itu sendiri maupun dari faktor lingkungannya.
Untuk mengetahui permasalahan fisologi apa saja yang biasa ditemui dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus) maka dipilihlah tanaman tersebut dalam kegiatan praktek ini.



1.2 Perumusan Masalah

Masalah yang dirumuskan dalam kegiatan praktek ini adalah bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus).

1.3 Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus) .

1.4 Manfaat Kegiatan
Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi sekaligus aplikasi atau penerapan dari teori ilmu yang didapat dalam perkuliahan Fisiologi Tumbuhan Program Studi Pendidikan Biologi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kacang hijau (Phaseolus radiatus) potensial untuk dikembangkan sebagai sumber protein nabati dan mempunyai harga cukup tinggi dibandingkan kacang-kacangan yang lain. Tanaman kacang hijau biasanya diusahakan selama musim kering dengan hasil beragam, 0,3–0,9 t/ha. Penyebab ragam hasil ini antara lain adalahserangan hama . Salah satu hama penting pada tanaman kacang hijau di musim kemarau adalah thrips (Megalothrip usitatus M.). Kehilangan hasil dapat mencapai 80%, bahkan puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Seranga hama ini menyebabkan daun menjadi keriting, tanaman kerdil, pembentukan terhambat. Gejala serangannya sering disamakan dengan penyakit yangdisebabkan virus. Daerah penyebaran hama ini di Indonesia terutama Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi. Pengendalian thrips secara khusus belum banyak dilakukan, karena petani umumnya belum mengenal hama ini. Pengendalian terpadu hama ini perlu diterapkan dengan mengikutsertakan petani secara aktif. Pengendalian terpadu ditujukan untuk menekan populasi thrips melalui pengaturan waktu tanam, penanaman varietas tahan, dan penggunaan insektisida



BAB III
METODE KEGIATAN

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan
Kegiatan praktek dilakukan bertempat di rumah praktikan yang beralamat di Jl. Transkalimantan RT 1 NO 1 Kec. Alalak Kab. Batola.
Lama kegiatan praktek sekitar 80 hari yang di mulai hari minggu tanggal 23 September 2007 sampai 9 Desember 2007 dengan 12 kali pengamatan.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan sebagai berikut:
1.Pot palastik, yang diisi dengan media tanam
2.Penggaris untuk mengukur tinggi tanaman selama pengamatan
3.Alat tulis untuk mencatat data hasil pengamatan
4.Bilah kayu panjang 30 cm, sebagai penyangga dan pelindung tanaman

Bahan yang digunakan sebagai berikut:
1.Bibit/ biji Kacang hijau (Phaseolus radiatus)
2.Tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman.
3.Ampas teh sebagai campuran tanah dalam pembuatan media
4.Air sebagai pengganti air yang biasa di peroleh akar dari dalam tanah

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja kegiatan praktek adalah sebagai berikut:
a. Pengecambahan
Proses pengecambahan di awali dengan memilih bibit yang bernas yaitu yang bagus, kondisinya baik, berisi dan jika di rendam maka biji tenggelam. Setelah dipilih, biji di rendam dengan air dan di biarkan selama kurang lebih 24 jam. Perendaman akan menghasilkan biji yang telah berkecambah yang kemudian akan di tanam kedalam media tanam.


b. Penanaman
Sebelum penanaman, media tanam sudah harus disiapkan sebelumnya. Dalam hal ini media tanam yang digunakan adalah tanah dengan komposisi 2/3 tanah biasa dan 1/3 ampas teh yang telah dibiarkan beberapa hari. Media ini di tempatkan didalam pot plastik dengan diameter atas 30 cm. Media ini diisi dengan 3 biji kacang hijau yang telah berkecambah.
c. Pemeliharaan
Proses pemeliharaan meliputi penyiraman, penggemburan kembali dan kontrol terhadap gangguan penyakit.
1. Penyiraman
Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Penyiraman pagi dilakukan pada kurang lebih pukul 06.30 dan sore sekitar pukul 06.00.

2. Penggemburan kembali
Kegiatan penggemburan kembali bertujuan agar tekstur media tanam tetap terjaga kelonggarannya sehingga proses penyerapan air dan aerasi berjalan optimal, kegiatan ini hanya dilakukan saat media tampak memadat. Caranya dapat dilakukan dengan mencongkel-congekl media hingga media tampak gembur.

3. Kontrol terhadap gangguan dan penyakit
Kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi dan pengambilan langkah jika terjadi gangguan terhadap tanaman, Dimana dalam kegiatan kali ini dilakukan pada saat tanaman menunjukan gejala sakit yaitu berupa bercak-bercak putih pada daun yang makin lama makin menyebar, tindakan yang diambil adalah memotong tangkai daun yang terinfeksi dan memusnahkannya.

d. Pengamatan
Pengamatan dalam kegiatan praktek ini dilakukan sebanyak 12 kali dengan mengambil waktu sebagian besar pengamatan pada hari minggu. Pengamatan ini bertujuan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta keadaan tanaman secara keseluruhan.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

1. Tabel rangkaian kegiatan
Proeses kegiatan di mulai dari proses penyemaian dan penanaman tanaman kacang hijau ( Phaseolus radiatus) hingga waktu penyerahan laporan kegiatan yang di mulai dari tanggal 23 September hingga 9 Desember 2007. Adapun data proses penanaman dan pengamatan tanaman dari tanggal 23 September 9 Desember.


BAB V
ANALISIS DATA

Dalam kegiatan ini banyak hal yang perlu dikaji dalam rangka hal-hal yang mempengaruhi kegiatan ini terutama dalam hal hubungannya terhadap tanaman itu sendiri. Beberapa hal yang sekiranya perlu dikaji tersebut antara lain proses pengecambahan, media tanam, pemeliharaan, dan gangguan dan penyakit.
1. Pengecambahan
Kacang hijau ( Phaseolus radiatus) merupakan tanaman yang mudah berkecambah karena memiliki lapisan kulit biji yang tipis sehingga proes penyerapan air dapat berlangsung dengan mudah. Penyerapan air sangat penting untuk proses pengaktifan enzim dan pertumbuhan biji. Di dalam biji terdapat embrio dan cadangan makanan berupa kotiledon yang diperlukan embrio untuk tumbuh. Embrio tersebut memiliki 3 bagian penting :
a.Tunas embrionik ( calon batang dan daun)
b.Akar embrionik ( calon akar)
c.Kotiledon ( berisi cadangan makanan)
2. Madia tanam
Media tanam yang dipilih adalah campuran 2/3 tanah gambut yang telah diolah dan 1/3 ampas teh. Seperti kita ketahui tanaman dari suku kacang-kacangan sangat baik ditanam sebagai penahulu tanaman lain karena tanaman kacang-kacangan mampu mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri pengikat nitrogen sehingga media tanam untuk tanaman kacang tetap bagus untuk di gunakan sebagai media tanaman lain sesudahnya.
Begitu besarnya peranan N bagi tanaman, maka penyediaannya sangat perlu diperhatikan sekali. Surnber N utama tanah adalah dari bahan organik melalui proses mineralisasi NH4+ dan NO3. Selain itu N dapat juga bersumber dan atmosfir (78 % NV melalui curah hujan (8 -10 % N tanah), penambatan (fiksasi) oleh mikroorganisme tanah baik secara sembiosis dengan tanaman maupun hidup bebas (Sanchez, 1976: Megel dan Kirkby, 1982).

a. Tanah gambut
Tanah gambut merupakan tanah yang memiliki tekstur cukup padat dengan kadar pH dibawah 7 atau bersifat asam.
b. Ampas teh
Tujuan penambahan ampas teh ini diharapkan dapat mengurangi kerapatan tekstur tanah, dan mengurangi kadar keasaman tanah sekaligus dalam rangka pemanfaatan limbah rumah tangga.


3. Pemeliharaan


Pemeliharaan meliputi penyiraman air setiap hari dan penggemburan media dalam rangka memperbaiki tekstur media tanam.
a. Penyiraman
Tanaman mutlak memerlukan air semenjak proses perkecambahan sampai tanaman tersebut mati. Bahkan pada sebagian tumbuhan dalam pemencaran biji pun masih melibatkan air.
Air diperlukan tumbuhan terutama sebagai pelarut unsur-unsur hara. Unsur-unsur hara yang terlarut ini di daun akan di proses menjadi makanan dengan bantuan cahaya matahari. Air juga berfungsi sebagai pelarut dalam proses biokimiawi di dalam sel tumbuhan.
Kebutuhan air umumnya di peroleh akar dari lingkungan yang diserap melalui proses osmosis, namun pada penanaman di dalam pot ketersediaan air terutama air tanah seperti pada tanman yang tumbuh di tanah tidak bisa bertahan lama karena proses penguapan. Sehingga perlu dilakukan penyiraman setiap hari agar kandungan air di dalam media tanam senantiasa dapat mencukupi kebutuhan air tanaman.
b. Penggemburan media tanam
Media tanam memiliki kerapatan tanah tertentu. Penambahan ampas teh dapat membantu mengembalikan tekstur tanah kekeadaan yang baik dimana kerapatannya sedang dengan jumlah pori-pori udara yang cukup sehingga pernapasan akar tidak terganggu. Dengan adanya ampas teh maka banyak serangga-serangga kecil dan dekomposer yang menguraikan ampas teh tersebut dan dengan adanya serangga-serangga ini maka akan banyak terdapat rongga-rongga udara yang terbentuk dari pergerakan serangga-serangga tersebut.
Namun tekstur media ini lama-kelamaan akan merapat dan memadat karena proses penyiraman setiap hari. Sehingga perlu diadakan penggemburan media agar pori-pori media tanam kembali bagus sehingga pertukaran udara dan penyerapan air kembali bagus. Penggemburan ini dapat dilakukan dengan mencongkel-congkel media disekitar tanaman.
4. Gangguan dan penyakit


Pada kegiatan praktek ini dijumpai suatu gejala yang menyerang tanaman yang berumur kurang lebih 20 hari. Gejala tersebut berupa bercak-bercak putih kecoklatan pada daun. Bercak-bercak ini semakin lama semakin meluas dan helaian daun yang diserang akhirnya layu dan mengering. Pada awalnya praktikan tidak mengetahui penyebab dan jenis penyakit ini dan hany mengambil tindakan memotong helaian daun yang tersinfeksi dan memusnahkannya.
Setelah di cocokan dengan literatur dari hasil pengamatan gejala-gejala dan efeknya terhadap tanaman maka dapat di ketahui bahwa penyebab penyakit tersebut adalah oleh serangga yang disebut Thrips (Megalothrip usitatus M.) yaitu sejenis serangga berukuran 0,5–2,0 mm, ramping, berwarna kuning pucat sampai kehitamhitaman. Imagonya bersayap dua pasang yang relatif panjang dan sempit, dengan sedikit atau tanpa pembuluh dan berumbai. Alat mulut thrips bertipe pengisap, makanannya berupa cairan bagian tanaman, terutama daun. Antenanya pendek, 4–9 ruas. Thrips berkembang biak secara kawin maupun tanpa kawin (partenogenesis). Pembiakan secara partenogensis menghasilkan keturunan serangga jantan. Sebagian besar thrips bersifat fitofag atau pemakan tumbuh-tumbuhan dan merusak secara langsung. Kalshoven (1981) melaporkan bahwa seekor betina dapat meletakkan sekitar 15 butir telur yang berkelompok di dalam jaringan epidermal daun, dengan periode inkubasi telur selama 3 hari.
Nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan tanaman pada permukaan daun, sehingga permukaan atas daun menjadi berbintik-bintik keputihan dan permukaan bawah daun menjadi nekrotik. Gejalanya jelas bila serangan terjadi pada tanaman muda yang dicirikan daun mengkerut atau keriting, tanaman kerdil, pembentukan bunga terhambat bahkan rontok, sehingga hasil biji kering berkurang. Serangan berat dapat menyebabkan puso.
Selain gangguan dari hama tersebut gangguan lain juga ditemukan adanya serangan ulat yang menggerogoti daun muda.




BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan.
Dari hasil kegiatan praktek yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1.Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan dalam bentuk ukuran dengan menghilangkan konsep yang menyangkut perubahan kualitas sedangkan perkembangan adalah suatu proses pertumbuhan teratur dan berkembang menuju suatu keadaan yang lebih tinggi, teratur dan kompleks.
2.Masa dormansi tanaman kacang hijau relatif singkat karena hanya beberapa jam saja.
3.Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau sangat dipengaruhi oleh faktor fisiologis tumbuhan itu sendiri serta pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu kegiatan fisiologis tanaman tersebut.
4.Faktor lingkungan yang sering mengganggu pertumbuhan tanaman kacang hijau adalah serangan hama Thsips.

B. Saran
Pembudidayaan tanaman kacang hijau sangat penting sebab kacang hijau merupakan salah satu penyedia protein nabati penting bagi masyarakat.
Penmbudidayaan tanaman kacang hijau memerlukan pengetahuan khusus terutama dalam menanggulangi penyebab ganguan-gangguan fisiologis tanman tersebut baik yang berasal dari dalam tubuh tumbuhan itu sendiri maupun dari lingkungannya.




BAB VII
SUMBER RUJUKAN

Dwijoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Indiati, S.W. 2002. MLG 716 Galur Kacang Hijau Tahan Terhadap Hama Thrips. Seminar Balitkabi.

Marwoto & K.E. Neering. 1989. Kehilangan hasil dan pengendalian hama dengan insektisida pada tanaman kacang hijau. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Balittan Malang. 20-21 Maret 1989. p.66-69.

Sastrapradja, S.D. dan M.A. Rifai. 1989 Mengenal Sumber Pangan Nabati dan Plasmanuftahnya. Puslitbang Bioteknologi-LIPI. Bogor.

EMBRIOLOGI

MAKALAH
EMBRIOLOGI

OLEH:
MUHAMMAD JUMANI
PENDAHULUAN



Salah satu ciri makhluk hidup adalah bereproduksi ( berkembang biak). Reproduksi bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan atau eksistensi suatu sepesies tersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara umum yaitu vegetatif dan generatif. perkembangbiakan secara vegetatif umunya terjadi pada tumbuhan dan hewan tingkat rendah. Sedangkan perkembangbiakan secara generatif umumnya terjadi pada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi.
Perkembangbiakan secara generatif melibatkan individu jantan dan individu betina. Individu jantan akan menghasilkan sel kelamin jantan atau sperma, sedangkan individu betina akan menghasilkan sel kelamin betina atau sel telur ( ovum). Sel sperma dan ovum dibentuk di dalam alat kelamin (gonad), pada individu jantan disebut testis tepatnya di tubulus semeniferus sedangkan pada individu betina ovum dibentuk di ovarium.
Pada masa tertentu umumnya hewan akan menampakkan suatu tanda-tanda birahi atau hasrat untuk melakukan perkawinan. Ini menandakan bahwa baik jantan maupun betina telah siap untuk melakukan reproduksi.
Setelah terjadi perkawinan (sperma berhasil masuk kedalam ovum), terbentuklah zigot. Dalam tahapan normal setelah terjadi pembuahan maka akan terbentuk morula, kemudian morula akan tumbuh menjadi blastula (blastocyst).
Blastulasi ( proses pembentukan blastula ) menunjukan perbedaan pada tingkatan takson masing-masing. Sebagai contoh blastulasi pada amphioxus,katak, ayam dan babi memiliki tahap pembentukan alat yang berbeda-beda dari tiap daerah bakalnya sendiri-sendiri.
Pada bangsa aves (burung) epiblast, akan menjadi bakal ectoderm, mesoderm dan notochord. Bakal endoderm berasal dari hypoblast yang sel-selnya tumbuh dan menyebar kebawah, kedaerah rongga blastocoel.
Bakal ectoderm epidermis mengisi daerah yang bakal jadi anterior embrio lapisan epiblast. Bakal ectoderm berupa sabit terletak di posterior lapisan epiblast. Bakal notochord dan prechorda di posterior ectoderm saraf sedang bakal mesoderm di paling posterior lapisan epiblast. Pre-chorda berupa lempeng terletak tepat di bakal jadi poros embrio.
Proses blastulasi akan diiringi oleh suatu proses berikutnya yaitu gastrulasi. Pada tingkat gastrula ini akan terjadi proses dinamisasi daerah-daerah bakal pembentuk alat pada blastula, diatur dan dideretkan sesuai bentuk dan susunan tubuh spesies yang bersangkutan. ( Wildan Yatim, 1982 ; 136-179)

ISI

A. Lapis Benih
Pada proses blatulasi akan dihasilkan 2 lapis benih yaitu epiblast dan hypoblast. Epiblast sebagian besar bakal menjadi ectoderm sedangkan hypoblast akan menjadi bakal endoderm.
Lapisan ini akan menjadi lengkap pada saat gastrulasi, yaitu menjadi 3 lapis benih ectoderm ( lapisan bagian luar), endoderm (lapisan bagian dalam) dan mesoderm ( lapisan bagian tengah).

B. Gerakan Gastrulasi
Dalam gastrulasi sel masih terus membelah dan memperbanyak sel. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam proses gastrulasi juga terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun deretan sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies masing-masing.
Dalam hal ini ada dua kelompok gerakan :
a.Epiboli
b.Emboli

1. Epiboli
Epiboli adalah gerakan melingkup yang berlangsung disebelah luar embrio. Kegiatan ini berlangsung pada bakal ectoderm epidermis dan saraf. Gerakan berlangsung berdasarkan poros bakal anterior dan posterior tubuh. Bersamaan dengan terus bergeraknya bakal mesoderm dan endoderm, epiboli menyesuaikan diri sehingga ectoderm terus menyelaputi seluruh embrio.
Gerakan epiboli dapat dilihat pada gambar 1.1 yang menggambarkan proses berbagai pergerakan pada gastrulasi.

2. Emboli
Emboli merupakan gerakan menyusup, gerakan ini berlangsung disebelah dalam embrio yaitu pada daerah-daerah bakal mesoderm, notochord, pre-chorda dan endoderm. Gerakan-gerakan tersebut mengarah ke blastocoel.
Ada 7 macam pergerakan pada emboli yaitu :
Involusi ( Gerakan membelok kedalam)
Konvergensi ( Gerakan menyempit)
Invaginasi ( Gerakan mencekuk dan melipat suatu lapisan)
Evaginasi ( Gerakan menjulur )
Delaminasi ( Gerakan memisahkan diri)
Divergensi ( Gerakan memencar)
Extensi ( Gerakan meluas)

C. Gastrulasi pada Amphioxus
Gerakan epiboli pada Amphioxus berlangsung pada seluruh bakal ectoderm yaitu di sepanjang anterior-posterior tubuh. Proses epiboli ini berlangsung mengiringi proses membesar dan melonjongnya embrio.
Beberapa gerakan yang terjadi antara lain :
Invaginasi
Involusi
Ekstensi
Kovergensi
a.Invaginasi terjadi pada daerah hypoblast yaitu di bagian median daerah yang berbatasan dengan sabit dorsal yaitu kearah blastocoel sampai bertemu dengan epiblast. Hypoblast mengalami perpanjangan menurut poros embrio akibat adanya pertambahan jumlah sel. Daerah terjadinya invaginasi disebut juga blastopore yang memiliki 3 bibir yaitu bibir dorsal, ventral dan lateral.
b. Involusi berlangsung pada bakal notochord dari sabit dorsal yang sesuai dengan gerakan hypoblast kearah anterior, sehingga notochord akan terletak didorso-median tepatnya persis di bawah ectoderm.
c.Ekstensi berlangsung pada seluruh daerah bakal pembentuk alat sehingga keseluruhan embrio memanjang dan membesar.
d.Konvergensi di daerah bakal mesoderm kearah dorso-median blastopore tepatnya di daerah bibir lateral. Pada akhirnya mesoderm akan berada di kedua sisi bakal notochord.yang terletak di bibir dorsal

D. Gastrulasi pada Katak ( Amphibi)
Gerakan epiboli berlangsung pada ectoderm yang bersamaan dengan terjadinya berbagai proses emboli sehingga ectoderm selalu menyelaputi seluruh embrio. Di lain pihak ectoderm saraf meluas pada daerah dorso-median embrio di sepanjang poros anterior-posterior berbentuk prisai yang di sebut keping neural atau keping saraf.
Pada proses gastrulasi pada katak juga melibatkan beberapa gerak yang di mulai dengan berinvaginasinya hypoblast pada celah yang terbentuk pada awal proses ( bibir dorsal blastopore). Invaginasi ini disertai oleh pre-chorda di daerah dosrso-median bibir dorsal yang bergerak kearah anterior bakal embrio. Gerakan ini diikuti oleh bakal notochord yang bergerak keposterior kearah bibir dorsal yang kemudian berinvolusi di daerah dorso-median menyertakan pre-chorda. Sel-sel notochord yang terletak di bibir lateral berkonvergensi secara perlahan menuju bibir dorsal. Notochord akan berada persis di bawah bakal ectoderm saraf di dorsal-median.
Bakal mesoderm yang terletak pada kedua sisi bakal notochord berkonvergensi kebibir dorsal kemudian berinvolusi ke celah antara ectoderm dan endoderm. Di kedua sisi embrio, dan juga kearah ventral.
Pada saat proses epiboli dan emboli, perpusingan gastrulasi sebesar 400 berlangsung di daerah plug yolk berlawanan arah dengan jarum jam, sehingga gumpalan yolk yang banyak yang tadinya berada di posterior embrio menjadi daerah ventral atau daerah bakal perut.

Gerakan-gerakan gastrulasi pada katak ( amphibi) dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2.

Gambar 1.1 Proses pergerakan sel dalam proses gastrulasi pada Katak

Gambar 1.2 Gambar tahapan akhir blatulasi dan pergerakan-pergerakan pada gastrulasi.
E. Gastrulasi pada Aves
Diawali dengan penebalan di daerah bakal median embrio di caudal yang disebut primitive streak (lempeng awal). Lempeng ini terbentuk setelah telur 8 jam eram. Primitive streak terbagi atas beberapa bagian sebagai berikut :
Primitive groove
Primitive fold
Primitive pit
Primitive knot atau Handsen’s node
Primitive streak pertama kali terbentuk di daerah postrerior area pellucida yang tumbuh dari sel-sel epiblast yang bergerak kearah median di posterior kemudian sel-sel dalam primitive streak tersebut memperbanyak diri. Sebagaian besar daerah posterior area pellucida ( bakal pre-chorda, notochord, dan mesoderm) berkonvergensi keprimitive streak kemudian berinvolusi diantara hypoblast dan epiblast.
Daerah Hensen’s node merupakan daerah tempat terjadinya invaginasi bakal pre-chorda dan notochord. Selain itu bagian lain dari primitive streak merupakan gerbang lewatnya sel-sel mesoderm.
Bakal mesoderm yang berada setengah posterior epiblast daerah area pelucida berpindah ke posterior , kemudian berkonvergensi ( mengumpul) dari kedua sisi ke garis median. Sel-sel epiblast bakal mesoderm yang berasal dari primitive streak kemudian bergerak kantara epiblast dan hypoblast. Kemudian sel-sel tersebut bergerak menyebar ke lateral dan anterior di kedua sisi garis median lalu berdivergensi membentuk lapisan mesoderm yang luas. Sementara itu sel-sel ectoderm saraf juga melakukan pergerakan secara konvergensi ke arah median lalu berepiboli semenjak Hensen’s node membentuk keping neural ( neural plate) di sepanjang garis median.
Dengan bergerak terus keanterior maka primitive streak mendekati bakal pre-chorda notochord. Pre-chorda dan notochord membentuik primitive pit dengan melakukan invaginasi, Dari sabit notochord, sel-sel pre-chorda yang diiringi sel-sel notochord berkonvergensi semenjak di primitive pit menuju primitive groove kemudian berinvolusi lalu melakukan extensi ke depan sepanjang garis median diantara endoderm dan ectoderm saraf.
Ketika embrio berumur 18 jam eram primitive streak telah lengkap terbentuk. Area pellucida berubah bentuk dari bentuk bundar ke bentuk lonjong. Pada ectoderm berlangsung proses epiboli sampai melingkup kedaerah yolk. Ectoderm juga memanjang ke arah anterior dan menjadi berbentuk pita yang disebut keping neural.
Proses gastrulasi memerlukan waktu sekitar 22 jam eram. Seluruh daerah pembentuk alat sudah tersusun pada daerah masing-masing. Primitive streak sebanding dengan perkembangan daerah bakal pembentuk alat ketiga lapisan benih, mengalami penyusutan secara perlahan dan bergerak ke caudal embrio. Sisanya akan membentuk bagian ekor ( cauda). Seperti pada gambar 1.3.

Gambar 1.3 Proses gastrulasi pada aves ( burung)

Gambar 1.4 Pembentukan dan berbagai pergerakan proses pembentukan lempeng neural pada gastrualasi Aves

Gambar 1.5 Perkembangan keping neural dan mesoderm pada ayam
F. Gastrulasi pada Babi
Proses gastrulasi berawal dari pembentukan primitive streak yang berasal dari kovergensi epiblast. Sel-sel di epiblast memperbanyak diri dengan cepat sehingga terjadilah penebalan yang kemudian membentuk Hensen’s node. Primitive streak kemudian memanjang dengan terus menumbuhkan sel-sel baru.
Dari anterior Hensen’s node sel-sel ectoderm saraf berkonvergensi ke garis median kemudian berepiboli ke arah anterior membentuk keping neural. Di posterior Hensen’s node melakukan invaginasi sehingga terbentuklah primitive pit.
Sel-sel bakal pre-chorda dan notochord berinvolusi dan berdelaminasi serta berextensi dari primitive pit ke arah anterior sepanjang garis median tepat di bawah keping saraf. Sehingga pre-schorda yang awalnya terletak di posterior akhirnya terletak di anterior notochord.
Pre-chorda merupakan bahan daerah caput ( kepala) embrio yang pertumbuhannya diatur oleh host organizer bagian depan notochord. Bagian belakang notochord disebut trunk organizer yang akan mengatur petumbuhan daerah badan ( truncus).
Hypoblast akan menjadi endoderm seperti halnya pada ayam dan akan bertemu dengan bagian posterior Hensen’s node.Sel-sel bakal mesoderm membentuk semacam sayap dengan berdelaminasi keanterior yaitu di antara hypoblast dan epiblast di sepanjang kedua sisi notochord. Pada sel-sel mesoderm, sebagian berpindah keposterior dan sebagian kearah lateral sehingga terbentuk 2 daerah mesoderm yaitu :
1.Mesoderm embrional
2.mesoderm extra-embrional.
Mesoderm embryonal akan menumbuhkan mesoderm embrio sedangkan mesoderm extra-embrional akan menumbuhkan dan membina selaput embrio, amnion, kantong yolk, allantois, chorion.
Pada manusia jaringan mesoderm extra-embrional. Tumbuh dari tropoblast yang merupakan lapisan kedua dari lapisan tropoblast tersebut. Dengan kata lain tidak terbentuk dari primitive streak sperti pada babi. Jaringan extra-embrionik ini menyelaputi tropoblast sebelah dalam dan kantung-kantung selaput embrio sebelah luar.
Primitive streak dapat pula disamakan dengan blastopore yang tertutup. Sedangkan Hensen’s node dapat pula diibaratkan dengan bibir dorsal blastopore yang menumbuhkan pre-chorda dan notochord. Dan bibir ventral dan lateral yang menumbuhkan endoderm dan mesoderm dapat diibaratkan sebagai badan primitive streak yang ada di belakang Hensen’s node.



DAFTAR PUSTAKA


http://www.biologyreference.com/Co-Dn/Development.html

http://8e.devbio.com/article.php?ch=23&id=242

http://www.usm.maine.edu/bio/courses/bio205/06_development_1.html

http://www-rohan.sdsu.edu/%7Erhmiller/chordates1/Chordates1.htm

Yatim, Wildan. 1982. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito : Bandung.
DAFTAR ISTILAH


Anterior : Bagian depan
Chorion : Kantung umum yang menyelaputi kantung-kantung lain bersama embrio.
Emboli : Gerak menyusup
Embrio : Makhluk yang sedang dalam tingkat tumbuh dalam kandungan
Epiboli : Gerak melingkup
Gastrulasi : Pertumbuhan yang mengiringi tingkat blastula
Morula : Berbentuk seperti anggur dan di lindungi oleh selaput yang disebut zona pellucida.
Posterior : Bagian belakang
Placenta : Jaringan atau alat temporer tempat melekatnya embrio
Yolk : Cadangan makanan

Persela

More on this category »

Berita Islam

More on this category »

Hukum

More on this category »
 

© Copyright Berita Lamongan Terkini 2010 -2011 | Design by Kabarlamongan.com | Published by Nirwana Digital Print | Powered by Blogger.com.