Iklan

Iklan
Advertorial
News Update :

Lamongan Online

More on this category »

Politik

More on this category »

Teknologi

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan

Patriotisme Pendidikan

Kamis, 13 Januari 2011


Gelombang kesuksesan timnas sepakbola benar-benar menghipnotis masyarakat Indonesia. Dari headline media massa hingga tren fashion, semuanya larut oleh euforia. Meski terusak oleh kegagalan merengkuh gelar juara meski telah sampai final, fakta ini tetaplah fenomenal. Ada spirit perjuangan yang seperti menular antar tiap orang. Spirit perjuangan yang terbingkai oleh perasaan kolektif layaknya saat masa pra kemerdekaan dulu. Spirit perjuangan yang membuat seseorang siap melakukan apa saja, berkorban apa saja, bahkan jiwanya, demi negara. Spirit perjuangan itu dikenal juga dengan istilah patriotisme.

Lihatlah bagaimana ratusan ribu masyarakat Indonesia rela berdesak-desakan, berpeluh, hingga berdarah-darah demi selembar tiket pertandingan. Lihat juga bagaimana puluhan juta masyarakat Indonesia rela menambah pengeluaran bulannya demi membeli kaos merah putih berlambang garuda di dada. Lihat pula bagaimana ratusan juta masyarakat Indonesia rela meninggalkan acara sinetron kesayangan demi menyaksikan timnas berlaga lewat layar kaca. Dengan inilah mereka berkorban demi negara. Inilah wujud dari patriotisme mereka. Tapi, itu sepakbola. Bagaimana dengan pendidikan?

Tidak seperti sepakbola, saya agak sulit untuk menjawab soal ini. Bukan karena ketidakadaan idealita atau kalimat yang didahului kata ‘seharusnya’, tetapi karena ketiadaan fakta. Tidak ada sebuah fakta aktual yang membuat saya bisa menjelaskan bagaimana wujud patriotisme dalam pendidikan. Tolong beritahu saya jika anda pernah melihat dan merasakannya secara langsung. Karena sepanjang perjalanan saya di dunia pendidikan formal, hampir tidak pernah saya merasakannya, termasuk pada diri saya pribadi.

Hampir tidak pernah saya melihat seorang guru yang mengajar dengan semangat yang tiada habis dan pengorbanan yang tiada selesai. Begadang demi merancang metode mengajar yang tepat. Memperhatikan perkembangan siswa satu per satu. Berusaha menyelesaikan masalah siswa dengan segenap cinta dan kasih sayang. Membaca banyak buku dan koran demi siswa yang butuh pencerahan. Berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain demi menjalankan tugas negara. Hingga mengganti standar kebahagiaan dari kesejahteraan diri menjadi perkembangan pribadi siswa. Semuanya berorientasi memberi dan lebih dari itu, semuanya juga berpangkal pada ketulusan hati, tanpa paksaan. Hal itu jugalah yang membedakan patriotisme masa pra kemerdekaan dengan patriotisme orde baru.

Saya dan teman-teman saya sesama (maha)siswa pun hampir tidak pernah belajar dengan hasrat keingintahuan yang tinggi dan semangat untuk menjiwai materi. Bertanya dan berdiskusi meski sedang tidak di kelas. Membaca buku dan menulis pemikiran meski sedang masa liburan. Memandang setiap materi pelajaran sebagai alat bantu untuk membantu negara menyelesaikan masalah di masyarakat. Hingga mengganti tujuan pribadi, dari sekadar dapat hidup sejahtera sendiri menjadi berusaha untuk membuat warga negara sejahtera bersama. Ada semacam penjiwaan terhadap setiap hal yang sistem pendidikan berikan pada mereka. Penjiwaan yang pada saatnya nanti berwujud pada pengabdian dan misi perubahan demi masyarakat yang lebih baik.

Tapi tenang. Lihatlah kembali ke atas. Saya masih menyelipkan ‘hampir’ di tengah ketiadaan bukti patriotisme pendidikan itu. Hal ini menandakan bahwa masih ada peluang untuk membuktikan keberadaannya. Untuk membuktikan bahwa rangkain kata-kata indah itu riil dan nyata. Dan itu hanya orang-orang yang telah sadarlah yang bisa melakukannya. Ya! Orang-orang itu adalah kita; saya dan anda!

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Kesadaran Berpendidikan

Kamis, 22 Juli 2010


Ayo kita lihat bagaimana kondisi pendidikan di sekitar kita. Apakah gedung sekolah berdiri gagah dengan cat yang indah? Apakah setiap kelas berpendingin dan dipenuhi berbagai alat-alat canggih? Apakah ada berbagai laboratorium dengan teknologi yang begitu mengagumkan? Jika anda tinggal di kota, mungkin hampir semua jawabannya adalah YA! Semua hal yang berkaitan dengan materi (fisik atau infrastruktur) di kota pasti akan sering membuat anda berkata: “Wah…”

Akan tetapi, coba anda bandingkan dengan kondisi manusianya. Kepala sekolah yang tak bisa menjadi contoh. Guru yang tak memiliki gairah untuk membagi ilmunya. Staff yang tak melayani dengan tulus. Hingga pelajar yang tak sadar mengapa mereka harus belajar di tempat formal pembelajaran (sekolah). Begitu kontradiktif. Inilah buah dari gagasan PEMBANGUNAN ala orde baru yang ternyata lebih mengedepankan aspek materi (kebendaan) daripada kesadaran (nilai-nilai). Padahal kesadaranlah yang mengarahkan materi, bukan sebaliknya.

Kesadaranlah yang membuat seorang pelajar tidak menyontek, meski sebenarnya ia bisa melakukannya. Kesadaran pula yang membuat seorang guru bekerja keras untuk menemukan metode mengajar yang efektif, meski sebenarnya ia bisa tidak melakukannya. Kesadaranlah yang membuat semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan bergerak tulus karena nilai-nilai, bukan suruhan peraturan.

Lihatlah bagaimana Bu Muslimah mengajar laskar pelangi! Penuh gairah positif dan semangat mendidik yang luar biasa. Apakah infrastruktur sekolah mereka bagus? Tidak. Karena keberhasilan pendidikan memang tidak ditentukan olehnya. Ibarat seorang wirausahawan, materi dan infrastruktur hanyalah modal, sedangkan kerja keras dan strategi jitu sang wirausahawanlah yang paling menentukan jumlah keuntungan.

Jadi, yang paling pendidikan kita butuhkan untuk berhasil bukanlah infrastruktur megah nan canggih, tapi manusia-manusia yang memiliki kesadaran akan nilai-nilai, gairah positif, serta semangat juang untuk terus bergerak menuju tujuan.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

3 Contoh Budi Pekerti

Selasa, 27 April 2010


Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa pendidikan budi pekerti kini tengah didengungkan kembali. Semakin banyak masyarakat yang sadar dan tergerak untuk kembali pada karakter asli bangsa ini. Setelah membahas tentang implementasi dari pendidikan budi pekerti, kini saya ingin membahas contoh-contohnya. Dengan harapan, akan semakin banyak masyarakatnya yang sadar dan tergerakkan olehnya.

Contoh-contoh ini sering kita lihat sehari-hari. Bahkan kita pun mungkin pernah melakukannya. Entah disengaja atau karena tuntutan keadaan. Yang jelas, contoh-contoh ini adalah refleksi dari kehidupan kita.

Lalu... Apa sajakah contoh-contoh itu?

1. Terima kasih dan Sama-sama
Coba anda pikir, berapa jumlah orang yang telah membantu anda hari ini? Orang tua anda, abang angkot, petugas kebersihan, guru, teman, penjual makanan, tukang asongan, pengamen, dll. Banyak bukan? Lalu... Berapa terima kasih yang telah anda ucapkan? Saya rasa hanya sekian persen dari keseluruhan. Padahal ucapan terima kasih yang disertai senyum tulus adalah balas jasa terindah dan 'lebih berasa' dibandingkan uang dan materi lainnya.

Selain itu, kata terima kasih itu punya pasangan, ialah sama-sama. Jika kita sering ingin membalas orang yang berbuat jahat, mengapa kita tak membalas orang yang berbuat baik? Jangan sampai kata terimakasih yang telah orang lain ucapkan menguap begitu saja. Ikatlah kata itu di hati anda dengan sebuah balasan: sama-sama.

2. Maaf
Manusia adalah tempatnya salah. Karena itu, mengapa kita tak meminta maaf? Padahal kita disuruh untuk melupakan setiap kebaikan yang telah kita lakukan dan mengingat betul setiap kesalahan yang telah kita lakukakan. Tapi mengapa? justru kebalikannya adalah fakta yang ada.

Selain itu, saya juga sering melihat sebagian orang yang meminta maaf tanpa mengetahui kesalahan yang telah perbuat. seperti saat lebaran contohnya. Apakah ini akan berarti? Tidak! Kata maaf yang terlontar dari seorang yang tidak tahu apa kesalahannya hanyalah: hiasan bibir.

3. Meminta Izin
Pernahkan anda mendapat permintaan izin dari komputer untuk menjalankan sesuatu? Lihat! Komputer saja meminta izin. Mengapa kita tidak? Padahal izin adalah pintu masuk menuju kesepahaman bersama. Ya itulah yang harus kita lakukan untuk menghindari kesalahpahaman. Meminta izin juga bisa memupuk kepercayaan dan menghindari kecurigaan sosial.

Budi pekerti adalah sebuah bentuk penghargaan dan penghormatan kita terhadap orang lain. Bentuk dari kepercayaan adanya rasa saling membutuhkan dan dibutuhkan. Bentuk dari rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah menciptakan dunia beserta isinya.

Budi pekerti sebagai sebuah karakter bangsa Indonesia mengajarkan kita untuk senantiasa berperilaku dengan hati dan perasaan. Berkesesuaian dengan perintah Tuhan. Jelas... Di sini kecerdasan emosi, spiritual, dan sosial saling bersinergi dalam karakter setiap diri, bangsa Indonesia.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Implementasi Pendidikan Budi Pekerti di Indonesia

Senin, 26 April 2010


Pendidikan budi pekerti belakangan ini nampaknya kembali didengungkan. Melihat realitas masyarakat yang semakin minim etika akibat tergerus oleh arus westernisasi. Bahkan saya pun melihat di rencana strategis kemendiknas 2009-2014, hal ini sudah tercantum. Tapi mengapa, sebagai siswa saya belum melihat implementasinya di akar rumput atau setidaknya di tingkat menengah. Apakah benar, bangsa ini hanya bisa merencanakan tapi sulit merealisasikan?

Daripada memikirkan tentang hal itu, saya memilih untuk lebih fokus pada solusi. Bagaimana implementasi dari pendidikan budi pekerti itu? Apakah dibuat pelajaran khusus? Di masukkan dalam ekstrakulikuler? Atau yang lain?

Berdasarkan dari pengalaman saya, pelajaran yang berorientasi pada perilaku nampaknya sedikit kurang berhasil. Karena memang di sekolah, khususnya sekolah formal, pelajaran lebih ditekankan pada hal yang teoritis. Seperti pelajaran akhlak pada agama Islam, yaa begitu-begitu saja. Guru membahasnya di kelas, tapi toh siswa-siswanya tetap saja melakukan hal yang berlawan dari itu.

Menurut saya, pelajaran yang berorientasi pada perilaku haruslah masuk pada tatanan perilaku pula. Sehingga akan lebih tepat jika pelajaran budi pekerti masuk dalam setiap pelajaran yang diajarkan dan tercermin dari perilaku guru sebagai tauladan. Selain itu, seruan-seruan etika juga bisa lebih masif jika dipromosikan oleh setiap guru mata pelajaran.

Jadi, pelajaran budi pekerti tidak hanya dibebankan pada beberapa guru, tetapi semua guru adalah pengajar budi pekerti. Mereka bertutur dengan santun, memberi nasihat dengan bijak, mengajar dengan kasih sayang, dll. Selain itu, guru harus mulai meninggalkan gengsi feodalistik yang memberi jarak antara mereka dan siswa. Mereka harus berusaha untuk menjadi 'kakak' yang demokratis bagi siswa tapi tetap tegas terhadap prinsip.

Dalam tatanan siswa, implementasi dari pendidikan budi pekerti adalah proaktif mencari pemahaman tentang budi pekerti, menimbang setiap nasihat, dan meyakini budi pekerti sebagai sebuah prinsip dan karakteri diri.

Indonesia adalah bangsa yang mengedepankan budi pekerti dan etika. Mari memperbaiki keadaan yang sekarang ini dengan terus beraksi dan berkreasi, demi perubahan yang lebih baik.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Persela

More on this category »

Berita Islam

More on this category »

Hukum

More on this category »
 

© Copyright Berita Lamongan Terkini 2010 -2011 | Design by Kabarlamongan.com | Published by Nirwana Digital Print | Powered by Blogger.com.