Iklan

Iklan
Advertorial
News Update :

Lamongan Online

More on this category »

Politik

More on this category »

Teknologi

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label Belajar dan Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar dan Mengajar. Tampilkan semua postingan

Mengajar dan Uang

Senin, 02 Januari 2012


Di saat saya masih belajar sebagai Mahasiswa. Baik di kelas lewat ‘celotehan inspiratif’ maupun serpihan inspirasi yang saya kumpulkan di sepanjang jalan yang saya lewati. Ada beberapa teman saya yang sudah menjadi guru. Mereka mengajar. Ada yang menjadi pengajar komersil di bimbel atau privat, tetapi ada juga yang menjadi pengajar sukarela di rumah belajar, rumah baca, atau apalah namanya. Keduanya memang sama-sama dibutuhkan mahasiswa. Menjadi pengajar komersil untuk tambahan uang di tengah harga bahan pokok kuliah (buku, fotocopy, pulsa, dll) yang terus melambung dan menjadi pengajar sukarela untuk melatih sensitivitas mahasiswa terhadap masalah akar rumput. Akan tetapi, tetap saja, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Salah dua perbedaannya adalah soal persiapan sebelum mengajar dan dibayar atau tidaknya seorang pengajar.

“Aduh, 4 jam lagi ada panggilan ngajar nih di blablabla (tempat dirahasiakan). Mendadak banget sih. Gimana persiapannya coba.” Ujar teman saya dengan agak panik sambil mencari buku rangkuman pelajaran IPS yang dia punya saat SMA. Itulah sedikit ilustrasi bagaimana pengajar komersil menyiapkan dirinya saat ingin mengajar. Mereka biasanya membaca materi yang seringkali sudah sempat dia pelajari, tetapi baru ingat lagi karena ingin mempersiapkan diri mengajar. Kalau saja, murid yang diajarkan sedikit kritis, bisa saja sang guru itu gelagapan karena dia tidak memegang akar materi yang diajarkan dengan kuat. Sang guru hanya memahaminya di permukaan. Meski tak tahu pasti, saya rasa ada juga pengajar komersil di sekolah atau lebih akrab dengan istilah guru yang serupa kasusnya dengan pengajar komersil di bimbel tersebut.

Pemahaman permukaan semacam itu membuat ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sebuah kenikmatan hati yang menggelayut di dada para pengajar, apalagi para pembelajar. Para pengajar hanya menjadikan aktivitasnya itu sebagai sarana mendapatkan uang. Tidak lebih. Maka menjadi wajar ketika para pembelajarnya pun hanya belajar tak lebih untuk mengerjakan soal-soal. Itulah mengapa, meski saya juga mau uang, saya masih belum terpikir untuk menjadi pengajar komersil di bimbel. Entah, bagaimana nanti.

Saya pikir, situasinya agar berbeda pada pengajar sukarela. Mereka biasanya mengajar untuk anak-anak sehingga materinya pun tidak terlalu berat dan lebih banyak bermainnya. Mereka tidak banyak mempersipakan materi yang njelimet segala macam, modal mereka hanya pengalaman hidup dan keceriaan yang berusaha mereka bagi. Ini dia bedanya. Mereka mengajar untuk berbagai. Dalam arti, apa yang berikan adalah apa yang memang telah lama menempel dalam dirinya. Bukan materi yang baru saja dia baca di buku rangkuman. Itulah mengapa, terkadang nasihat dari seorang kakek atau nenek itu terasa lebih mengena sekaligus menyejukkan. Karena nasihat itu berakar dari pengalaman hidup mereka yang telah mengkristal menjadi sebuah kearifan, tingkat tertinggi dari ilmu pengetahuan.

Terlebih, pengajar sukarela itu tidak dibayar. Mereka seperti kehilangan salah satu alasan utama untuk tidak tulus dalam mengajar. Secara alamiah, prinsip kesukarelaan ini akan menyeleksi para pengajar menjadi hanya yang benar-benar ingin berbagi dan mengincar kenikmatan hati dalam mengajar saja. Contoh lain yang agak unik adalah pengajar dalam kelompok mentoring ke-Islam-an atau kerap kali disebut halaqah. Mereka biasanya ada materi, tetapi materi tersebut sebisa mungkin tidak hanya dipahami secara mendalam tetapi juga dipraktekkan oleh si pengajar. Arah dari materi pun sebisa mungkin diarahkan pada hal-hal yang bersifat aplikatif misalnya disertai dengan pengecekan amalan harian seperti sholat atau tilawah (membaca Quran). Sejauh yang saya lihat, kesukarelaan adalah cara terbaik untuk mengajar.


Meskipun begitu, saya tidak menafikan ada yang coba memadukan keduanya. Salah satu yang cukup berhasil adalah Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Bukan bermaksud mendewa-dewakan IM. Akan tetapi, memang baru IM-lah gerakan pengajaran yang terpublikasi dengan baik di tengah masyarakat. Anis Baswedan beserta tim saya rasa cukup mampu membuat profesi sebagai pengajar komersil (di SD pelosok) tetap memiliki sense kesukarelaan yang berakar pada filosofi mengajar yang dalam. Saya pun tidak menafikan adanya pengajar-pengajar komersil yang meski mengejar uang demi memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tetap mengajar dengan tulus dan sepenuh hati.

Ya! Uang memang godaan berat bagi setiap pengajar untuk tidak tulus mengajar. Menggoda pengajar untuk sekadar menyampaikan materi tanpa pemahaman mendalam dan keikutsertaan hati. Namun, jika mereka mampu mengatasinya. Mengapa tidak?

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Kesediaan untuk Belajar

Selasa, 28 Desember 2010


Bagaiamana mungkin. Sekelompok manusia dengan potensi yang tidak jauh beda dan guru beserta metode mengajar yang sama, meraih hasil yang berbeda. Beberapa orang sukses menyerap kearifan. Beberapa yang lain hanya berhenti pada tataran pengetahuan. Dan sebagian yang lain teralienasi dalam keterpaksaan belajar. Mungkin ini pula yang menyebabkan selalu ada stratifikasi sosial di setiap tempat belajar, ada elit yang pintar dan satelit yang ‘pintar’ (dalam arti yang berbeda). Kita biasa menyebutnya ranking atau peringkat.

Hampir semua misi pewarisan nilai dan pengajaran mengalami masalah yang serupa. Termasuk kedua orang tua saya. “Tidak ada yang berbeda, ibu memberi perhatian ke semuanya kok,” tukas Ibu saya dengan yakin. Namun, fakta menunjukkan hal yang berbeda. Ada tata nilai yang berbeda antara saya dan kedua adik saya. Perbedaan yang membuat saya mengira ada perbedaan cara ajar Ibu saya terhadap kami bertiga. Hingga saya mengetahui konsep hidayah. Di mana porsi manusia hanyalah untuk berusaha. Ada Sang Maha Penentu Hasil yang tak terkira oleh indera dan spekulasi logika. Ini adalah bukti bahwa tidak ada yang namanya gagal dalam sebuah pengajaran. Karena hasil, Allah yang menentukan.

Itu dari sudut pandang pengajar. Bagaimana dengan para pembelajar? Mengapa materi yang disampaikan dengan cara yang sama di tempat yang sama menghasilkan hasil yang berbeda? Jangan tanyakan itu pada logikamu. Karena mungkin jawabannya tersembunyi manis di balik hatimu. Bangkitkan ia dengan refleksi diri. Berkacalah dan kau akan temukan bercak hitam di kening yang tak terlihat dalam keadaan normal. Ini adalah soal kesediaan hati untuk menerima. Merendahkan demi pertambahan. Ini juga soal bagaimana berdiri di tengah. Tanpa rasa sombong bak di puncak atau rasa inferior bak di jurang terdalam. Di sini kerendahan hati adalah pintu pembuka menuju kepercayaan diri.

Anda mungkin mendengar ‘celoteh inspiratif’ dari pengajar yang sama dengan teman di samping anda. Tapi, matanya lebih fokus dari anda, keingintahuannya lebih besar dari anda, pikirannya lebih bergejolak dari anda, dan semua itu berpangkal pada segumpal daging imajiner yang begitu luar biasa pengaruhnya: hati. Hati yang selalu merendah di depan orang berilmu, selalu lapangan di depan pengkritik, selalu peka di depan berbagai peristiwa. “Semua punya makna sehingga pasti selalu ada pembelajaran di baliknya,” begitu mungkin jika hati bisa bicara.

Karena belajar bukan hanya soal prestasi, tetapi juga soal tradisi. Bagaimana menjadikan belajar sebagai kebiasaan dan mekanisme diri untuk lebih baik lagi. Bersediakah hati ini untuk belajar?

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

-------------------------------------------------------------------------
Hahaha, lama tak jumpa ya kawan. Maaf yah, saya masih beradaptasi dengan kultur akademik di UI nih. Jadi, blog ini agak terbengkalai selama 3 bulan-an ini. Mumpung libur nih, saya akan berusaha aktif lagi. Tunggu yah, tulisan-tulisan saya selanjutnya. :)

Antara Siswa dan Mahasiswa: Sebuah Refleksi Masa Transisi

Minggu, 13 Juni 2010


Kisah ini dimulai ketika saya sedang membaca artikel-artikel di kompasiana. Sebuah situs berkonsep citizen journalism yang menurut saya membuatnya seperti kumpulan blogger. Karena di kompasiana, saya seperti menemukan artikel-artikel bagus nan inspiratif yang kadang luput dari perhatian karena blog penulisnya tidak terlalu saya kenal. Kompasiana seperti katalog inspirasi bagi saya. Begitu beragam, multikultural, dan tentunya membuat kita lebih nyaman untuk memilih.

Namun, inti kisah ini bukanlah tentang kompasiana, tetapi tentang perasaan siswa. Gelar umum pada diri saya yang sebentar lagi akan berganti menjadi mahasiswa. Di sinilah saya: masa transisi. Dimana saya bukan lagi siswa, tetapi juga belum menjadi mahasiswa. Masa penuh perenungan yang membuat saya ingin mencurahkannya dalam sebuah tulisan.

Kisah ini berlanjut ketika saya membaca sebuah artikel (di kompasiana tentunya) yang bertutur tentang keterasingan siswa dalam dunia pembelajaran. Penulis membandingkan keterasingan siswa tersebut dengan teori Karl Marx tentang keterasingan buruh dalam dunia sosial-ekonomi. Ia membanding buruh yang dikejar target produksi dengan siswa yang dikejar target nilai dan lulus. Ia juga membandingkan buruh yang tidak merasakan makna dari barang yang diproduksinya dengan siswa yang juga tidak merasakan makna dari pembelajaran dan produk-produk pikirannya.

"Jawaban-jawaban soal, catatan & buku bacaan pelajaran menjadi tidak bermakna lagi ketika mereka telah menyelesaikan studi. Siswa kita terasing dari produk pikirannya dalam mencari jawaban soal-soal. Sedikit sekali dari peserta didik kita yang menjiwai materi pelajaran yang diberikan. Tdk ada internalisasi nilai-nilai." Salah satu kutipan yang paling menohok saya dan membuat saya tergerak untuk membaginya dalam status facebook agar teman-teman yang lain juga bisa ikut merasakannya.

Benar saja. Setelah lulus UAN dan masuk sosiologi UI, modul-modul dan kertas-kertas soal itu tak lagi bermakna bagi saya. Menyentuhnya pun saya kini tak pernah. Ini menyiratkan bahwa niat saya belajar di sekolah dan bimbel selama ini ternyata hanya untuk sekadar lulus saja. Berbagai retorika tentang pendidikan yang saya sampaikan di blog ini ternyata masih belum bisa menjadikan saya berbeda dari siswa-siswa lainnya. Saya tetap saja menjadi korban dari keterasingan pembelajaran.

Salah satu bentuk keterasingan lainnya adalah perasaan bahwa hanya sekolahlah satu-satunya harapan. Sama seperti buruh yang merasa hanya pekerjaannya itu sajalah satu-satunya cara untuk bertahan. Aktivitas sekolah benar-benar sudah mendarah daging dalam diri saya. Sehingga ketika kini libur panjang yang juga merupakan masa transisi dalam dunia pembelajaran saya menjadi seperti kehilangan sesuatu. Sebuah aktivitas rutin yang dulu menghabiskan sekitar 1/4 waktu saya dalam satu hari. Akan tetapi, meski merindukannya, saya tetap saja tidak terlalu merasakan makna pembelajaran di dalamnya. Rasa kerinduan kosong. Seperti perokok yang tidak tahu enak rokok, tapi mengaku tidak enak jika tidak merokok.

Meski baru sedikit, untungnya saya sudah menemukan aktivitas baru yang dulu mungkin hanya jadi sambilan saja: Membaca. Alhamdulillah, kini mulai rutin saya lakukan. Saya harap ini bisa sedikit mengisi kekosongan makna pembelajaran di tengah masa transisi penuh kecamuk batin ini. Saya pun berharap bisa seperti seseorang yang cukup saya kagumi dalam bidang kepenulisan. Dan ternyata, salah satu langkah yang beliau lakukan adalah membaca hingga 12 jam dalam satu hari. Bayangkan! Setengah dari jatah waktunya dalam satu hari.

Ibarat sedang berdiri di atas jembatan. Semoga kerinduaan saya akan masa lalu (siswa) dan kepenasaranan saya akan masa depan (mahasiswa) mampu melahirkan optimisme baru yang membuat setiap jejak langkah saya bernilai dan bermakna. Bukan hanya dalam konteks kemahasiswaan nanti, lebih luas, yakni dalam dunia pembelajaran. Dunia penuh mimpi, optimisme, dan ketekunan demi meraih kearifan yang tersusun dalam mozaik-mozaik kehidupan.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

7 Strategi Membuat Belajar Menjadi Menyenangkan

Kamis, 06 Mei 2010


Bosen nih. Kayaknya Dunia Pendidikan Indonesia kok masih aja diributin sama-sama hal yang menurut saya sih sepele. Dari sebelum sampe sesudah, Ujian Nasional masih aja berpolemik. Padahal masih banyak hal lain yang bisa kita kedepankan selain masalah itu, salah satunya: belajar.

Ya! Belajar itu memiliki makna yang luas. Bahkan keseluruhan hidup kita ini adalah belajar. Kita melakukan sesuatu >> mengevaluasinya >> menjadi lebih baik. Tetapi saya akan sedikit mempersimpitnya menjadi belajar dengan 'sadar'. Maksud saya bukan belajar berdasarkan pengalaman, tetapi belajar yang secara sadar kita usahakan untuk menambah wawasan dan keterampilan.

Tetapi terkadang belajar 'sadar' itu dilakukan dengan keterpaksaan dan tanpa melibatkan hati. Belajar jadi terkesan membosankan. Emang belajar tidak menyenangkan yah? Bisa kok. Nih saya beri tahu 7 strateginya:

1. Cari Sisi Menariknya
Setiap pelajaran pasti memiliki sisi menariknya bagi anda. Entah dimana, letaknya bagi setiap orang pasti berbeda-beda. Mulailah belajar dari bagian yang anda anggap menarik. Karena langkah awal sangatlah menentukan. Seperti saya yang langsung 'bete' dengan kimia ketika ulangan harian pertama saya mendapat nilai sangat jelek. Buatlah kesan pertama belajar anda menyenangkan, maka setelahnya akan lebih mudah.


2. Hubungkan dengan Hobi
Setiap orang pasti punya hobi. Aktivitas yang membuat anda senang bahkan anda anggap sebagai hiburan. Nah... Kuncinya adalah bagaimana anda membuat hobi anda sebagai sarana belajar. Anda bisa menonton film dengan subtitle bahasa Inggris, membaca majalah berbahasa inggris, diskusi online di forum atau facebook, jalan-jalan sambil memperhatikan tingkah manusia dan menghubungkannya dengan teori-teori psikologi dan sosiologi, dll. Jadikan menjadi hiburan yang mendidik atau pendidikan yang menghibur.

3. Jadikan Sebagai Syarat Menggapai Cita-Cita
Cita-cita itu seperti pom bensin. Dia akan mengisi tangki motivasi ketika anda mulai lelah dan tak bersemangat. Kekuatan cita-cita juga akan membuat anda berusaha memenuhi segala syarat untuk menggapainya. Anda pasti akan lebih bersemangat belajar matematika dan ekonomi ketika anda telah memantapkan hati untuk menjadi ekonom. Ketika anda melakukannya, hati anda akan berkata, "Aku harus menguasai ... jika ingin menjadi ..."

4. Cari Sumber Lain
Belajar dengan sumber yang sudah ditentukan biasanya membosankan. Karena selera itu tidak bisa diseragamkan. Untuk itu, sebagai pembelajar anda harus mandiri, mencari sumber lain sendiri. Kalau saya sih paling enak googling, apalagi yang sumbernya dari blog. Biasanya mereka tuh punya opini yang kritis dan melawan arus kemapanan. Dengan mencari sendiri sumber belajar, itu menjamin bahwa anda benar-benar mau belajar.

5. Indentifikasi Role Model
Role model atau panutan memiliki fungsi yang hampir sama dengan cita-cita. Tapi ia orientasinya lebih ke orang. Sehingga karakteristik yang ingin dicapai bisa lebih jelas. Tidak harus menirunya 100%, karena beliau pun pasti punya kekurangan. Identifikasi kelebihan-kelebihannya dan bagaimana ia mencapainya. Role model akan membuat cita-cita anda menjadi lebih jelas dan konkret.


6. Cari Tempat Lain
Lingkungan pasti akan mempengaruhi individu. Yakinkan diri anda bahwa lingkungan anda sudah membangun atau setidaknya tidak menghambat aktvitas belajar anda. Pindahlah jika hal yang berlawanan yang terjadi. Carilah suasana baru seperti taman hijau yang sudah jarang anda kunjungi atau tempat nongkrong yang baru buka di ujung jalan sana. Membaca buku atau berselancar internetlah di sana. Tempat dan suasana baru bagai sebuah batere baru bagi mobil-mobilan yang membuatnya berlari lebih kencang.

7. Just Do It
Hal paling parah adalah ketika anda menunda-nunda belajar dengan alasan bosan. Berhenti sejenak tak apa, tapi jangan sampai membuat anda malas memulai lagi. Padahal hal yang menyenangkan terkadang tidak ada di depan, tetapi berada di tengah. Saya saja baru beberapa tahun ini merasakan betapa menyenangkannya belajar sejarah. Padahal dulu sangat tidak menyukainya. Lakukan saja, maka anda akan temukan betapa menyenangkannya hal yang anda pelajari.

Orang yang ingin belajar adalah orang ingin maju. Jangan sia-siakan waktu anda untuk berleha-leha hanya karena 'cap' membosankan yang tertempel di benak anda tentang belajar. Termasuk penyimpitan makna bahwa belajar itu haruslah di sekolah. Bahkan, waktu libur untuk siswa adalah waktu yang tepat untuk belajar. Belajar hal-hal yang di sekolah tidak dipelajari. Anda bisa pilih atau membuat aktivitas belajar anda sendiri: Belajar Menulis, Memasak, Membuat Mainan Anak-Anak, Menggambar, Membaca Quran, atau Sekadar Menambah Wawasan.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Belajar untuk Tidak Sekadar Mengerti

Jumat, 23 April 2010


Sudah jamak kita ketahui, di Dunia Pendidikan Indonesia saat ini, khususnya di sekolah formal, siswa hanya diajarkan untuk sekadar mengerti. Guru-guru menjejali kita dengan berbagai ilmu pengetahuan. Berbagai pelajaran. Berharap kita akan mengamalkannya jika telah lulus nanti. Yakin tuh? Saya ragu. Karena di sekolah, kita hanya dituntut untuk sekadar mengerti.

Lalu, setelah kita diajarkan berbagai mata pelajaran, kita disuruh mengerjakan soal-soal ujian. Niatnya sih untuk mengetes seberapa mengerti kita tentang mata pelajaran tersebut. Tetapi bukankah kita belajar kembali menjelang ujian? Apakah dengan cara itu ilmu pengetahuan bisa nempel di otak? Atau hanya kita ingat-ingat menjelang ujian?

Ritual ujian, apalagi ujian nasional, saya rasa telah disalahpahami oleh para siswa. Mereka mengejar nilai, pada guru-guru mereka berharap mereka mengerti dan bisa menerapkannya di kemudian hari. Bahkan, Finlandia, negara dengan pendidikan terbaik pun mengatakan bahwa ujian hanya akan mengacaukan pola pikir siswa dari makna dan tujuan sebenarnya dari belajar.

Lihat! Untuk memastikan siswa benar-benar mengerti saja, masih sulit. Apalagi membuat siswa belajar lebih dari sekadar mengerti. Padahal tingkatan pengetahuan itu ada empat. Mengerti >> Menganalisis >> Merekonstruksi >> Mencipta.

Ibarat HP, jika mengerti itu hanya tahu, oh ini HP, bisa buat ini itu. Jika menganalisis itu bisa tahu detail bagian-bagian HP tersebut, bahkan mempretelinya. Jika merekonstruksi itu bisa membuat kembali (meniru) bagian-bagian HP yang telah dipreteli itu (Bangsa China telah sampai pada tahap ini). Jika mencipta itu mampu menambahkan hal baru dari rekonstruksi yang telah kita lakukan.

Meski begitu, tak ada guna jika kita hanya mengutuk masalah ini. Kita harus mencari solusi bersama dan menerapkannya mulai dari diri kita sendiri. Ada beberapa saran dari saya:
  • Selalu belajar mandiri dengan sumber-sumber lain setelah diajarkan sesuatu dari sekolah
  • Berusaha mengerti alur logika dan asal muasal dari pengetahuan yang kita dapatkan
  • Menyambungkan pelajaran yang kita dapat dengan kejadian di kehidupan sehari-hari
  • Mempraktikkan sekecil apa pun ilmu dan keterampilan yang kita dapatkan
  • Menjadikan mengarang sebagai sarana untuk menyampaikan ide dan opini
Sebagai siswa yang tak punya daya untuk mengubah sistem, kita tetap punya tanggung jawab untuk mengubah keadaan ini. Setidaknya dengan mengubah diri kita sendiri dahulu. Membiasakan lima hal di atas untuk meningkatkan tingkat pengetahuan kita. Untuk tidak sekadar mengerti, tetapi juga mampu mencipta!

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

Metode Belajar - Mengajar Efektif dan Terintegrasi

Sabtu, 13 Februari 2010


Salah satu permasalahan kontemporer dari dunia pendidikan saat ini adalah tidak efektifnya metode belajar-mengajar. Sehingga titik temu yang dihasilkan dari keinginan dan kemampuan guru dalam mengajar dan siswa dalam belajar tidak optimal. Kadang guru lebih nyaman dengan metode pemberian tugas, tapi siswanya justru lebih bisa menangkap jika ada penjelasan dari guru. Inilah PR kita bersama: mempertemukan keduanya di titik optimal.

Kunci utama dari permasalahan ini adalah tertutup atau tersumbatnya keran demokrasi dan komunikasi. Sehingga kedua belah pihak tidak bisa saling memberi masukan. Untuk itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membuka keran itu. Buatlah siswa menjadi lebih mudah menyampaikan aspirasinya. Hilangkanlah gengsi feodalisme yang kuno itu. Bukankah pendidikan ini sebenarnya untuk mereka?

Setelah berbagai masukan telah ada di tangan segera seleksi. Mana yang sekiranya benar-benar dibutuhkan siswa secara umum. Apakah pembelajaran yang berbasis IT? Apakah pembelajaran yang lebih fokus pada diskusi? Atau yang lain. Tapi ingat, hal ini juga harus disesuaikan dengan kemampuan guru sebagai salah satu stakeholder di sekolah.

Selain efektif, metode tersebut juga harus terintegrasi. Mengapa? Karena dari kasus yang saya alami, ada beberapa guru yang punya metode belajar-mengajar yang efektif dan disukai siswa tapi guru yang lain tidak. Untuk itulah, kepala sekolah beserta jajaran staffnya harus menstadardisasikan dan mengintegrasikan metode tersebut. Agar diharapkan, semua guru dapat mempraktekkannya. Meski pemerintah telah menggariskan sebuah kurikulum yang cukup baik (KTSP), setiap sekolah juga harus mengejawantahkannya ke dalam program aksi dan metode-metode praktis. Karena itulah sebenarnya masalahnya, ide konseptual yang telah digariskan pemerintah sulit berjalan baik karena sekolah tidak mengejawantahkannya ke dalam hal-hal yang sifatnya lebih praktis.

Sebagai siswa, saya punya beberapa saran khususnya untuk para guru yang saya cintai demi metode belajar-mengajar efektif yang sama-sama kita cita-citakan ini, antara lain:

1. Mengganti sifat galak dan tertutup dengan sifat akrab dan terbuka (tapi tetap tegas untuk masalah prinsip)
2. Selalu update tentang perkembangan zaman dan menceritakannya dalam setiap pembelajaran
3. Menjadikan setiap pelajaran ‘practicable’ dengan cara menguhubungkannya dengan kehidupan sehari-hari dan isu-isu aktual
4. Menyelipkan pembelajaran etika dan moral sebagai langkah penyeimbangan kecerdasan siswa
5. Membuat siswa kagum dengan ‘ciri khas’ guru sehingga pentransferan ilmu menjadi lebih mudah
6. Berusaha untuk mengenali setiap siswa sebagai langkah perubahan ‘image’ menjadi lebih akrab dan terbuka
7. Pacu terus mereka untuk aktif bertanya
8. Hindari memberikan tugas yang sekedar menyalin dari buku cetak
9. Sering-seringlah meminta feedback dari siswa tentang metode mengajar yang mereka inginkan

Semoga, saran-saran saya di atas bisa bermanfaat. Demi kebaikan kita semua: Masyarakat Indonesia. Karena pendidikanlah yang akan menjadi pondasi kokoh dari kemajuan bangsa ini. Oleh karena itu, menghasilkan pelajar yang bermutu adalah tugas kita bersama.

Salam Kreatif – Kritis,
Alfisyahrin


Reoritentasi Belajar: Bukan Nilai, Tapi Kecakapan

Senin, 04 Januari 2010

“Waduh, besok ulangan, mesti belajar nih gw!” Ungkapan fiksi sederhana yang nampaknya cukup merepresentasikan kondisi pelajar masa kini. Sebuah kondisi dimana nilai ulangan, tes, ujian, dsb, menjadi orientasi belajar para siswa. Mereka menghafal rumus, teori, dan semua penjelasan di buku hanya untuk satu tujuan: mendapatkan nilai yang baik. Lalu apakah dengan nilai yang baik berarti pelajar tersebut sudah memahami pokok bahasan tersebut? Apakah dengan nilai yang baik berarti sudah mampu menjadi manusia yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi masyarakat?

Memahami Esensi Pendidikan
Secara umum, pendidikan dapat didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk memanusiakan manusia. Karena pendidikanlah yang bertugas untuk melakukan transmisi nilai (value) dan pengembangan potensi. Sehingga nantinya manusia akan punya ‘pedoman hidup’ berupa nilai-nilai serta kecakapan yang akan diaplikasikan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam filosofi pendidikannya, Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa perkembangan manusia itu meliputi tiga aspek: Daya Cipta (Kognitif), Daya Rasa (Afektif), dan Daya Karsa (Konatif). Dari filosofi tersebut kita bisa menyimpulkan bahwasanya manusia itu punya lebih dari satu aspek untuk dikembangkan melalui pendidikan. Sehingga penitikberatan terhadap salah satu aspek saja akan berakibat fatal terhadap masa depan sang manusia dan juga lingkungan masyarakat yang didiaminya. Salah satu contoh aktualnya ada maraknya praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di negeri ini.

Ibarat dalam kondisi perang, pendidikan adalah sebuah proses pengumpulan bekal baik berupa kecakapan maupun mental agar bisa menjadi prajurit yang gagah di medan perang. Jika pendidikan tak mampu menjalankan tugasnya tersebut, maka kekalahan di medan perang niscaya akan sering terjadi. Ini pulalah yang menjadi salah satu sebab pokok dari krisis multidimensi di negeri ini.

Orientasi Belajar: Nilai atau Kecakapan?
Maksud hati sebenarnya nilai (score) itu digunakan sebagai sebuah parameter yang akan menunjukkan tingkat kepahaman pelajar untuk pokok bahasan tersebut. Namun di lapangan terjadinya banyak ketidaksinkronan. Itu berarti, kini nilai yang menjadi standard acuan itu tak lagi representatif.

Salah satu bentuk ketidaksinkronan tersebut adalah belajar hanya menjelang ujian atau sering disebut SKS (Sistem Kebut Semalam). Hal ini membuat pokok bahasan hanya akan menjadi hafalan jangka pendek bagi para pelajar yang mungkin hanya akan berguna untuk ujian saja. Jika hal itu yang terjadi, jangankan bisa dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat, memaknainya saja mungkin jarang dilakukan.

Bentuk ketidaksinkronan yang kedua adalah dianggapnya menyontek sebagai bagian dari usaha. Bagi penulis, ini adalah sebuah penghinaan yang ditujukan pada kaum sendiri, kaum terpelajar. Dulu, orang terpelajar adalah orang yang dielu-elukan masyarakat karena prospek masa depannya yang cerah. Tapi kini, sebagian dari kita telah menjerumuskan diri sendiri di dalam lubang kenistaan. Selain itu, menyontek ternyata juga berdampak buruk bagi psikologis bagi pelajar. Mereka akan menjadi malas dan tidak percaya diri. Rasa-rasanya mata rantai korupsi di Indonesia akan terus berlanjut jika mental dari para penerus bangsa masih seperti ini.

Pada dasarnya manusia telah disediakan jalan yang lurus di dunia ini. Jalan kebenaran. Namun, nafsu duniawi telah menggelapkan mata manusia, sehingga kenistaanlah yang tepat untuknya. Pendidikan yang semula memiliki misi luhur pun akan menjadi nista jikalau para pelajarnya tidak mampu mengontrol nafsu mereka. Kini hati yang bicara.

Reorientasi Belajar: Mengembalikan Pendidikan ke Jalan yang Lurus
Menghentikan mata rantai kebobrokan mental di negeri ini. Itulah salah satu ‘PR’ kita sebagai generasi penerus. Salah satu caranya adalah dengan reorientasi belajar. Jangan lagi terlalu menganakemaskan nilai, karena pada dasarnya nilai itu akan ikut dengan sendirinya jika kita sudah paham tentang pokok bahasan tersebut.

Namun, tugas kita kini bukan hanya harus paham, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Karena ilmu dan pengetahuan yang telah kita dapatkan di sekolah itu tidak ada harganya jika hanya diganjar dengan nilai atau ijazah. Akan tetapi, ia akan sangat berharga jika dengan hal itu kita mampu berkontribusi di masyarakat bahkan mengubah bangsa, apalagi dunia.

Pada dasarnya setiap pelajaran yang diberikan itu aplikatif. Sehingga salah besar jika kita menyebut ada yang namanya pelajaran hafalan. Yang ada hanyalah pokok bahasan yang sulit untuk diaplikasikan dalam waktu dekat karena keterbatasan sarana yang ada. Tapi masih banyak pokok bahasan lain yang sebenarnya bisa kita aplikasikan dalam waktu dekat. Seperti bagaimana sosiologi mengajarkan kita tentang perilaku menyimpang berikut pengendalinya. Bagaimana ekonomi mengajarkan pada kita tentang penyebab perubahan kondisi perekonomian seperti inflasi, fluktuasi kurs rupiah, hingga masalah APBN. Bagaimana biologi membuka wawasan kita tentang sifat-sifat tumbuhan dan hewan yang semestinya harus bisa hidup berdampingan dengan kita.

Untuk menghentikan krisis multidimensi di negeri ini dan menjawab tantangan masa depan, perubahan dalam bidang pendidikan mutlak diperlukan. Sebagai pelajar, yang bisa kita lakukan adalah mengubah orientasi belajar kita dan berusaha ‘menyambungkan’ setiap pokok bahasan yang kita pelajari dengan fenomena alam dan sosial. Ketika pendidikan sudah kembali ke jalan yang lurus, perubahan besar bangsa ini bukan lagi sekedar mimpi.

Perubahan Arus Bawah: Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Bangsa
Pandangan tertunduk, tak berani menatap ke depan. Mereka takut dengan tantangan zaman. Mereka tak berani melakukan perubahan. Merekalah sebagian pemuda zaman sekarang.

Bagi bangsa yang memiliki tingkat keberagaman sangat tinggi, perubahan arus atas (kebijakan/peraturan) dirasa kurang efektif, mengingat besarnya potensi penolakan akibat banyaknya perbedaan pandangan. Sehingga salah satu cara yang lumayan efektif adalah perubahan arus bawah. Perubahan dari akar rumput. Perubahan yang dimulai dengan cara mengubah diri sendiri dan mengajak orang lain untuk ikut berubah. Dalam Islam, hal ini disebut dakwah.

Langkah pertama adalah meyakini diri sendiri tentang kebenaran ini. Kebenaran tentang esensi pendidikan yang sebenarnya. Kebenaran tentang orientasi belajar yang benar. Kebenaran tentang keharusan ‘menyambungkan’ pokok bahasan dengan fenomena alam dan sosial. Keyakinan tersebut nantinya akan menampilkan sosok baru dari diri kita dan mungkin saja akan menimbulkan pertanyaan dari sebagian teman kita. “Makin lama makin cerdas aja lu?”, “Wuih, wawasan lu kok makin luas aja?”, “Lu kok bisa dapet nilai bagus tanpa nyontek sih?”, Jawab pertanyaan itu dengan yakin: “Karena gw telah melakukan apa yang seharusnya pelajar lakukan.”

Ketika pendidikan sudah kembali ke jalan yang lurus, perubahan besar bangsa ini bukan lagi sekedar mimpi.” (Alfisyahrin)

sumber: notes FB pribadi

Tips Menaikkan Ranking di Kelas

Rabu, 04 Februari 2009


Semua orang pasti pengen dapet nilai yang bagus dan rangking yang tinggi. Tapi hanya sebagian orang saja yang bisa mewujudkannya. Kira-kira caraya gimana yah? Nih, gue kasih sedikit tips buat temen-temen yang pengen rankingnya naik.
  1. Fokus saat guru menerangkan (mencatat adalah salah satu cara ampuh untuk semakin merangsang otak kita dalam mengingat pelajaran)

  2. Duduk di depan (80% dari temen gue yang duduk di depan rankingnya tinggi)
  3. Berpikir positif (sebagian besar temen gw yang bilang “belum belajar nih”, “aduh susah banget sih”, “gak bisa gue” gagal dalam ujian)
  4. Persiapkan diri kita sebelum pelajaran dimulai (pastikan otak kita tidak blank saat guru menerangkan)
  5. Yakin pada kemampuan diri kita (keyakinan pada diri sendiri akan menguatkan hati kita)
  6. Tidak mencontek (sebagian besar peringkat 1-3 diisi oleh orang-orang yang percaya akan kemampuan dirinya)

Tips-tips ini udah gue coba dan hasilnya lumayan memuaskan. Dulu gue peringkat 33, eh sekarang jadi peringkat 8. Alhamdulillah, Thanks Allah. Target selanjutnya adalah peringkat 4. Semoga tercapai, doain yah?

Persela

More on this category »

Berita Islam

More on this category »

Hukum

More on this category »
 

© Copyright Berita Lamongan Terkini 2010 -2011 | Design by Kabarlamongan.com | Published by Nirwana Digital Print | Powered by Blogger.com.